Thursday, March 1, 2012

Setting VGA SiS di Ubuntu

(pertama kali di posting tanggal 8 April 2011)
Kemarin waktu install ubuntu di laptop Axioo saya, salah satu masalah yang saya temui adalah mengenai resolusi layar (lihat di posting blog sebelumnya). Selesai install resolusi yang didapat cuma 800x600 pixel. Parah banget tuh, bentuknya jadi gede2 banget, jadi inget komputer server di Lab Ansis yang juga cuma bisa resolusi segitu, tersiksa lihatnya, gede tapi justru jadi ga jelas. Mungkin karena faktor ga terbiasa kali ya.
Untunglah karena koneksi internet lancar saya langsung bisa browsing kemana-mana. Dan segera dapat berbagai pencerahan dari situs-situs, terutama forum diskusi Ubuntu. Ternyata banyak yang mengalami nasib seperti saya. Disebutkan di berbagai situs itu memang VGA SiS (vga laptop Axioo saya) tidak didukung langsung oleh Linux dan juga produsen SiS terlihat malas mengeluarkan driver khusus Linux untuk VGA card mereka, meskipun sebenarnya ada dan bisa di download dari website resmi mereka. 
Dari situ saya langsung mencoba-coba berbagai macam cara yang ada, setelah beberapa jam melakukan trial and error, akhirnya saya berhasil juga menemukan cara untuk mendapatkan resolusi layar yang OK.
Ternyata setelah saya cari-cari lagi banyak tutorial cara install VGA Sis yang lebih gampang lagi.
Yang ini(http://slackcyber11.blogspot.com/2010/10/install-vga-sis-671771-di-ubuntu-1010.html) juga patut untuk dicoba, sepertinya cukup meyakinkan.
Intinya, santai aja bro kalau ada masalah di Linux. Kita berkembang karena community dan kita akan terus bertahan dari community.

Categories: , ,

Akhirnya Ubuntu Lagi

Dari kemarin saya cukup direpotkan dengan tukeran laptop sama kakak. Kakak pakai Acer saya dan saya ganti pakai Axioo. Sebenarnya secara kualitas ya jelas bagusan si Acer biarpun seri lama Acer Aspire 5050 tapi ketahanan dan performa sebenarnya lebih OK si Acer, dan karena itulah mending laptop itu dipakai kakak saya saja, resiko rusak karena pemaikaiannya jauh lebih kecil dibanding si Axioo yang biarpun secara spesifikasi lebih tinggi, tapi ketahanan dan performanya agak 'mlempem'.
 
Untuk menyukseskan proses tukeran ini saya juga jadi harus repot, pertama install ulang si Axioo, OS XP awalnya cukup hancur karena perawatan kurang Ok, saya install ulang dengan susah payah lewat USB karena DVD-rom nya sudah kurang bagus, dan tentu saja karena saya cukup custom user, instalasi software pendukung cukup banyak dan repot. Selanjutnya saya masih harus install ulang si Acer juga, karena selama ini sudah mapan dengan konfigurasi dual-boot XP SP2 dan Ubuntu 10.10. Software dan settingannya juga tampaknya kurang sesuai dengan kebutuhan kakak saya, untunglah proses install si Acer tidak repot dan softwarenya standar saja, bahkan saya jadinya masukin OS Windows 7 yang ultimate sekalian.
Masalah muncul setelah proses tukeran itu, sebelumnya saya memakai modem Smart pinjeman dari teman saya untuk berinternet, dan itu berjalan lancar. Karena modemnya akan dipakai lagi teman saya, saya putuskan untuk membeli modem hasil modifikasi di Kaskus, dari modem PCMCIA yang dirubah menjadi USB dengan nomor inject Smart juga. Awalnya saat memakai si Acer, segala sesuatunya lancar, internet di Windows lancar dan di Ubuntu lebih lancar lagi. Tapi semenjak pake Axioo dengan instalan XP SP3 downloadan dari Indowebster, saya jadi kesulitan untuk berinternet. Sewaktu-waktu koneksinya putus dan kadang menjadi sangat lambat kecepatannya. Saya  menduga karena ada kesalahan di OSnya saja, tapi untuk install lagi saya malas karena kerjaan di kantor juga sedang cukup banyak.
Akhirnya saya putuskan mencoba install Linux Ubuntu lagi saja. Karena DVD-room agak error, lagi-lagi saya buat dulu instalan dari USB, tapi ternyata dengan anehnya cara ini tidak berhasil, proses berhenti di booting USB, tanpa pesan error dan keterangan apapun. Saya putar otak atur strategi lagi, saya coba install lewat Wubi, jadi instalan Ubuntu akan didalam Drive Windows dan cara ini berhasil dengan smooth tanpa konfigurasi berarti, Ubuntu 10.10 terinstall di laptop saya.
Masalah selanjutnya langsung muncul ternyata. Resolusi yang saya dapat hanya 800x600 pixel. Parah banget, ini karena VGA si Axioo yang mereknya SiS tidak dikenali Ubuntu, Untungnya setelah googling sesaat saya menemukan beberapa alternatif penyelesaian. Beberap repot sekali dan setelah proses trial and error beberapa kali, saya akhirnya berhasil merubah resolusi ke 1280x800 75hz. Saya sudah cukup puas sementara ini biarpun tidak bisa memakai visual style apapun, cuma mendukung 2D dan repot.
Kembali ke masalah utama, koneksi internet di Ubuntu yang baru saya install terbukti stabil, tanpa masalah dan sinyalnya justru mendekati 90% terus. Mangstabb!!!

Categories: , ,

Compress MP3 in Ubuntu


Saya masih ingat kira-kira di tahun 2006-2007, saya masih mempunyai ( sebenarnya dipinjami oleh teman, tapi akhirnya diakuisisi jadi milik pribadi ) sebuah mp3 player kecil, mereknya Dolphin kalau tidak salah, berwarna hitam dengan memory 256mb. Kecil sekali ya kalau dibandingkan dengan produk-produk jaman sekarang, tapi seingat saya pada waktu itu memory segitu masih cukup lumayan.
Tapi tetap saja, biarpun masih "lumayan", saya tetap merasa butuh memasukkan lebih banyak lagi mp3 kedalam player tersebut. Pastinya yang terpikir adalah bagaimana membuat file mp3 menjadi berukuran lebih kecil dari normal di kisaran 4-6 mb perfile menjadi sekitar 1-3mb perfile.
Di windows saya biasa menggunakan software dbPowerAmp untuk melakukan compress file mp3, tapi di linux saya belum menemukan program sejenis waktu itu. Jadi saya berusahan mencari cara agar bisa melakukan compress mp3 di Ubuntu.
Setelah googling sesaat, terlihat titik cerah untuk melakukan hal ini, ternyata cukup dilakukan dengan script sederhana dan memastikan LAME terinstall di komputer kita.
Langkah-langkah yang saya lakukan :
  1. Memastikan LAME telah terinstall, bila belum silahkan install dengan software package management kesukaan anda
  2. Letakkan mp3 yang akan di compress ke dalam satu folder, misalnya folder bernama mp3, dengan terminal masuk ke folder itu.
  3. Buat file baru di dalam folder itu, misalnya dengan nama compress.sh dan masukkan kode berikut sebagai isinya
    mkdir ./compressed
    for file in *.mp3; do lame --mp3input -b 32 "$file" "./compressed/$file"; done
  4. Ubah akses file compress.sh agar bisa dieksekusi
    chmod ugo+x compress.sh
  5. Jalankan file compress.sh
    ./compress.sh
  6. MP3 yang terkompress sudah ada di folder compressed dan jelas memiliki ukuran file yang lebih kecil.
Disini saya mengubah bitrate mp3 menjadi 32kbps,bila menginginkan kualitas yang lebih baik, bisa menggunakan angka yang lebih tinggi, bitrate normal biasanya 128-192kbps, silahkan coba-coba mana yang paling sesuai untuk anda.
Menurut saya, secara kualitas suara, hasil compress mp3 dengan cara ini jauh lebih baik daripada menggunakan dbPowerAmp atau software sejenis di Windows. Silahkan dibuktikan ;)

Categories: , , , ,

Simple Ubuntu "Deep Freeze"

Salah satu request awal dari Laboran di lab komputer saya adalah program seperti Deep Freeze yang bisa berjalan di linux. Hal ini dibutuhkan karena lab komputer kami juga sekaligus berfungsi seperti warnet di kampus, jadi untuk menghindari kerusakan karena kesalahan penggunaan user, selama ini di Windows kami menggunakan Deep Freeze, jadi setiap komputer di restart, akan kembali ke setting seperti semula.
Sewaktu itu jelas belum ada software yang bisa melakukan fungsi selengkap deep freeze pada linux ubuntu, tetapi dari trainer kami dijanjikan akan dibuatkan script untuk dapat melakukan fungsi tersebut.
Jadi dari rencana yang kami buat bersama, user akan dibuat dengan otoritas seminimal mungkin, tanpa hak instalasi dan terbatas akses terhadap home foldernya sendiri. Untuk mempertahankan fase/memiliki tampilan standar sebenarnya secara sederhana yang perlu dilakukan adalah memiliki backup dari home folder user dan meng-copy-kan backup tersebut setiap komputer startup.
Dan akhirnya langkah-langkah yang kami lakukan :
  1. Membuat backup home folder user, dilakukan dengan menggunakan login root, karena kami mau menempatkan backup foldernya di folder /root, dapat dilakukan melalui file explorer (nautilus) ataupun melalui syntax di terminal (copy -R)
  2. Membuat script untuk mengcopy folder tersebut
    rm -rf /home/user
    cp -arf /root/user /home/
    chown -R user:user /home/user
  3. Misalnya berinama freeze.sh, kemudian dengan terminal ubah aksesnya dengan chmod, agar bisa dieksekusi sebagai script maka ketikkan perintah
    chmod ugo+x freeze.sh
  4. Selanjutnya adalah membuat agar script ini bisa berjalan secara otomatis ketika startup, edit file rc.local
    gedit /etc/rc.local *bisa juga menggunakan vim atau nano atau joe, tergantung preferensi anda.
  5. Tambahkan kode ini di bagian akhir file, kemudian save.
    /root/freeze.sh
Seharusnya script "Deep Freeze" sangat sederhana ini sudah bisa berjalan, paling tidak bisa mengembalikan settingan standar dari software yang baru saja digunakan, wallpaper dan berbagai tampilan desktop lainnya.
Untuk penjelasan scriptnya saya rasa scriptnya sangat mudah dan sederhana, silahkan ditanyakan bila ada yang tidak mengerti. :)

Categories: , , , ,

#1

Saya berkenalan dengan OS Ubuntu sejak tahun 2007. Lumayan juga, memang hampir tidak pernah jadi OS di personal computer saya, baru akhir-akhir ini setelah saya tidak memiliki akses ke komputer Ubuntu di lab komputer kampus saya ( baca : sudah lulus ).
Pertama berkenalan karena ada kebutuhan dari lab komputer di kampus saya yang mau berganti menggunakan sistem operasi open source. Karena saya lumayan sering muncul di lab, kemudian saya diminta bantuan untuk mengubah OS dari Windows XP menjadi Ubuntu, prosesnya dibantu oleh mahasiswa dari kampus lain, jadi semacam di training.
Setelah itu saya semakin menikmati Linux, terutama Ubuntu. Senang sekali untuk ngoprek dan mencoba-coba banyak hal mengenai Linux.
Blog ini akan berisi berbagai macam pengalaman saya dengan Ubuntu, seharusnya saya mulai menulis 5 tahun yang lalu ya, tapi tidak apa-apa terlambat, daripada tidak sama sekali, berusaha merecall juga pengalaman di masa lalu, ditambah dengan berbagai pengalaman baru sekarang.

Categories: , ,

Copyright © Johannes Dwi Cahyo | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑