Showing posts with label PA. Show all posts
Showing posts with label PA. Show all posts

Thursday, October 20, 2011

Firman itu Tidak Efektif

Bacaan : Markus 4:1-20.

Maaf kalau agak konfrontatif judulnya. Tapi ini yang terlintas di pikiran saya, saat saya merenungkan satu perikop dari Markus ini. Perumpamaan yang sangat terkenal pastinya, anak sekolah minggu juga pasti tau (saya ga pernah ikut sekolah minggu lho ..).
Perumpamaan tentang seorang penabur judul perikop ini. Mengenai seseorang yang menaburkan benih dan jatuh di 4 jenis tempat. Pinggir jalan, tanah yg berbatu, diantara semak duri dan tanah yang subur. Artinya juga sudah sangat kita kenal bersama. Benih itu adalah Firman dan untuk lebih OKnya, mari kita gunakan penjelasan asli dari Tuhan Yesus :

Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka.
Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira,tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.
Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu,lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah
Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat."

Disinilah saya berpikir bahwa Firman itu tidak efektif. Untuk apa benih itu ditaburkan di lahan yang dilihat sekilas saja sudah pasti kecil kemungkinan tumbuhnya? (saya memakai sudut pandang perbandingan langsung dan menyeluruh). Si Penabur itu jelas-jelas menyia-nyiakan benihnya dengan menabur "sembarangan", disebar saja tanpa melihat "tujuan"-nya. Kalau dilihat dari sisi efektifitas dan efisiensi tentu laporannya akan gagal total, bahkan di tanah yang subur pun, benih itu tidak memiliki hasil/buah yang "seragam", hasilnya berbeda-beda, benih yang sama di tanah yang sama suburnya, tapi hasilnya berbeda. Coba dihitung rasio input outputnya, pasti parah, kalau sebarannya merata berarti "yield"-nya hanya 25% dari input, atau dengan kata lain 75% input terbuang sia-sia. 
Apakah anda mencapai kesimpulan yang sama dengan saya?
Mari kita uji lagi kebenaran dari kesimpulan saya itu. Kita lihat dari beberapa kata yang saya cetak tebal.
  1. Sembarangan : apakah benar penabur itu sembarangan menaburkan benih? Bila diartikan sebagai Firman Tuhan tentu saja jawabannya tidak, Firman Tuhan tidak pernah sembarangan, sia-sia, apalagi gagal. Lihat Yesaya 55:10-11.
  2. Tujuan : agak dekat dengan sembarangan dan sebagian tentunya sudah terjawab di ayat Yesaya itu. Tujuan disini mungkin membuat kita berpikir, harusnya selektif, membedakan jenis benihnya kah, atau beda cara penanganannya kah atau bahkan memodifikasi benih itu, mungkin itu baik, tapi harus hati-hati, yang jelas cuma ada satu benih, satu jenis benih yang ditabur oleh si Penabur, dan kalau ada yang berbeda, apakah itu masih Firman Tuhan? lihat Matius 5:17-20.
  3. Seragam : apakah buah yang dihasilkan dari tiap Firman Tuhan selalu seragam? Kalau dilihat dari perumpamaan - perumpamaan lain tentu saja jawabannya tidak. Lihat Perumpamaan tentang Talenta Matius 25:14-30.
  4. Panen : juga tentang buah yang dihasilkan, apakah selalu berpatokan pada Yield, banyak tidaknya?Apakah tidak melihat kualitasnya? Dari beberapa Firman, tidak disebut kualitas riil, hanya disebut jenis panen, kalau buahnya sesuai, ya akan dipanen. Lihat perumpamaan Lalang diantara Gandum, Kebun Anggur.
Kesimpulan tadi rasanya jadi kacau dan rancu ya? Memang. Dan kalau sampai anda berpikir tentang keefektifan juga terlalu jauh dan menyalahkan si Penabur, bahkan menyalahkan perumpamaan ini, anda sudah melangkah terlalu jauh dari konteks. Ingat, perumpamaan selalu kontekstual, perumpamaan selalu memiliki batasan, dan itu jadi mempersempit area interpretasi yang sesuai dengan si Penyampai perumpamaan tersebut. Konteks disini jelas membandingkan perbedaan sikap hati tentang penerimaan Firman Tuhan, tidak ada presentase sebaran, jumlah yield, kesembronoan dalam penaburan, tidak, semua itu tidak ada.
Tuhan ingin bilang bahwa sekali lagi Ia tidak pernah memaksa, semua buah kita, tergantung dari respon hati kita terhadap Firman-Nya. Apakah kita mau menerimanya, merenungkan dan kemudian melakukannya sehingga akhirnya berbuah berkali-kali lipat seperti tanah yang subur? Atau pilihan yang lain yang membiarkan Iblis merebutnya, penindasan mengalahkannya atau kecemasan dan kekhawatiran dunia menutupinya?

Categories: , , , ,

Wednesday, August 10, 2011

Stuckititis


Attacks of stuckititis are limited to people who breathe and typically occur somewhere between birth and death. Stuckititis manifests itself in irritability, short fuses, and a mountain range of molehills. The common symptom of stuckititis victims is the repetition of questions beginning with who, what, and why. Who is this person? What was I thinking? Why didn't I listen to my mother?



Dari bab 2 di buku Just Like Jesus yang ditulis oleh Max Lucado. Judul bab-nya "Loving People You're Stuck With". Tertohok dengan langsung begitu membaca bagian ini, saya orang yang sering menggunakan dan membagikan mengenai doktrin ke-MahaTahua-an Allah, dan inilah yang membuat saya begitu malu, karena saya bahkan tidak menyadari hal sesederhana ini.


Saya sering protes kalau bermasalah dengan orang, bilang kalau, "Bukan aku yang salah", "itu semua salah dia.", "ya ampun kok dia bisa segitunya ya". Dengan sulitnya saya harus diajar untuk mengampuni. Ok akhirnya dalam banyak situasi saya benar-benar bisa mengampuni akhirnya, tapi itu setelah banyak perdebatan dan gerutuan, terutama pertahanan ego dengan pembenaran diri.


Tapi apa yang dicontohkan Yesus ? Mari benar-benar melihat Yohanes pasal 13.


Sebelumnya saya pastikan dulu anda yakin dan percaya pada kemahatahuan Yesus. jadi Yesus tahu sebelum sesuatu terjadi, apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi. Dia tahu semua itu. Dia tahu dulu kita seperti apa, sekarang sedang berpikir apa dan nantinya akan memilih untuk apa dan melakukan apa. Ya Yesus tahu semua tentang ini.


Sekarang mari bayangkan menjadi Yesus saat malam terakhir itu, Ia tahu bagaimana hati murid-muridnya, Ia tahu Yudas akan berkhianat, Ia tahu Petrus akan menyangkal Dia, Ia tahu Thomas akan meragukan kebangkitanNya, Ia tahu bagaimana sikap murid-muridNya nanti. Dan apa yang Yesus lakukan?



Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.



Pekerjaan membasuh kaki merupakan pekerjaan paling hina, biasanya dilakukan hambanya hamba, yang paling rendah kedudukannya. Dan saat Ia dan murid-muridNya ada di ruangan itu, tidak ada yang mau membasu kaki yang lain, karena mereka bahkan baru saja berdebat mengenai siapa yang terbesar nanti di kerajaan Allah. Dan Yesus yang melakukannya, Ia yang tahu nantinya bagaimana dikap murid-muridNya melakukan tindakan itu sebagai contoh dan pesan bahwa kasih Tuhan itu unconditional, tidak bersyarat dan pengampunanNya bahkan sudah diberikan sebelum suatu hal terjadi, Yesus sudah lebih dulu membersihkan kesalahan murid-muridNya sebelum mereka melakukanNya, sama dengan kita saat ini pun sudah dibasuh oleh kematian Yesus.



In this case the one with the towel and basin is the king of the universe. Hands that shaped the stars now wash away filth. Fingers that formed mountains now massage toes. And the one before whom all nations will one day kneel now kneels before his disciples. Hours before his own death, Jesus' concern is singular. He wants his disciples to know how much he loves them. More than removing dirt, Jesus is removing doubt.



Bahkan dengan orang-orang bebal yang kalau dibaca di kisah Alkitab itu, Yesus bisa mengampuni mereka dan justru tindakanNya itu membentuk mereka menjadi maksimal. Orang-orang yang tidak percaya, meragukan segala sesuatu, pernah mengatainya sebagai hantu, pernah hilang kepercayaan dan akan mengkhianatiNya dan meninggalkanNya. Bandingkan dengan saya, saya bahkan tidak tahu alasan kenapa orang bertindak sesuatu yang tidak cocok bagi saya, saya tidak tahu alasan dibaliknya, bahkan biarpun akhirnya tau, itu tidak seperti pengkhianatan Yudas ataupun penyangkalan Petrus.


Susah untuk dipraktekkan, tapi saya harus bisa, Tuhan sudah mencontohkan bagi saya, kasih dan pengampunan tanpa syarat, setiap saat, untuk segala sesuatu.

Categories: , , , , , ,

Thursday, May 19, 2011

Akibat Kekal

Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.FOR WE know that if the tent which is our earthly home is destroyed (dissolved), we have from God a building, a house not made with hands, eternal in the heavens.2 Korintus 5:1
Baca dari PDL hari ke-4. Kalau kita meninggal nanti tubuh jasmani kita akan mati, tapi itu bukan akhir, sama sekali bukan akhir dari diri saya. Tubuh duniawi saya disebut sebagai kemah/tenda/tent yang suatu saat akan dibongkar (baca : "mati") dan itu berarti Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman yang kekal, building, a house, yang bukan merupakan buatan tangan manusia. Itulah tubuh rohani kita nanti di sorga.
Dari sini jelas nyata kalau kita sama sekali tidak dibuat untuk berakhir di dunia, kita diciptakan untuk kekekalan. Hidup kita sekarang bukan hanya untuk sekarang, tapi untuk kekekalan juga nanti.Kehidupan sekarang hanyalah persiapan untuk menghadapi kekekalan.
Apa implikasinya ? Kita akan berubah cara pandang terhadap masalah, kegiatan dan sasaran-sasaran kita. Ada yang akan nyata bahwa itu penting bagi persiapan kekekalan kita dan ada yang sebelumnya seperti penting dan ternyata ga penting sama sekali. Nilai-nilai kita berubah, cara menggunakan waktu dan uang akan menjadi lebih bijak. Prioritas akan tertata ulang.
Kalau hidup cuma berakibat di waktu hidup di dunia ini saja yang singkat, tanpa konsekuensi lanjutan, saya pasti menyarankan anda untuk menikmati hidup senikmat-nikmatnya, ambil apa yang anda mau, makan apa yang anda mau, gunakan apa yang anda mau dan intinya lakukan yang anda mau, toh akhirnya anda maksimal akan mati dan semuanya selesai.
Sayangnya yang saya percaya tidak seperti itu, untuk setiap tindakan kita, sekecil apapun di dunia, itu akan punya akibat kekal, karena kita disiapkan untuk hidup kekal itu dari saat hidup di dunia. Saya punya bagian tertentu yang harus dipertanggungjawabkan nantinya.
Betapa "susahnya"..
Saya baru mengalami satu bagian, hanya satu bagian dari tindakan saya di masa lalu, dan ini bahkan hanya sesuatu yang harus saya hadapi di dunia. Dan hal seperti ini ternyata berat sekali, pertanggungjawaban atas apa yang pernah saya perbuat. Saya bahkan sampai bilang
saya kayak pencuri yang bahkan ga tau mencuri apa, kalo ada yang bisa saya kembalikan, akan saya kembalikan
Ini belum di kekekalan, ini cuma satu akibat pilihan yang salah di masa lalu, sekali lagi, cuma SATU.  Dan ini sudah begitu berat. Mari hidup dengan bijak, penuh tanggungjawab, karena apa yang sudah lewat tidak bisa diulangi dan terkadang apa yang sudah rusak akan sulit untuk diperbaiki.

Tuhan Memberkati

Categories: , , , , ,

Sunday, October 3, 2010

MENGASIHANI DIRI SENDIRI

Ketika saya membiarkan diri saya mengasihani diri sendiri,saya tidak berguna bagi Tuhan. Saya lumpuh ketika mata saya terpaku pada diri sendiri. Tidak ada kuasa Roh Kristus yang bekerja dalam diri saya, kecuali saya mengarahkan pikiran saya kepada-Nya.


"Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya." (1 Petrus 2:21)

Tidak ada waktu yang lebih saya benci daripada waktu ketika saya mengasihani diri sendiri. Mengasihani diri sendiri adalah bukti terkuat bahwa pikiran kita jelas-jelas kacau. Allah tidak pernah menciptakan pikiran kita untuk diri kita sendiri. Bahkan kita juga tidak disuruh untuk menguji diri kita sendiri, apalagi mengasihani diri sendiri.

Mengasihani Diri Sendiri

Beberapa tahun lalu saya ditangkap. Bagi saya, ini adalah salah satu cobaan terbesar untuk mengasihani diri sendiri. Saya sangat terkejut ketika para polisi yang tidak berseragam tersebut mengepung, memborgol, dan menyeret saya ke penjara. Saya berada di tiga penjara yang berbeda dalam 1 minggu. Saya menghadapi maksimum dua tuntutan masing-masing 99 tahun penjara. Saya tidak punya uang dan tidak punya perlindungan. Sudah tentu saya merasa sangat terancam.

Walaupun jaksa penuntut umum akhirnya menyarankan kepada hakim agar membatalkan tuntutan tersebut (yang langsung dilaksanakan oleh sang hakim), peristiwa tersebut memakan waktu 10 minggu yang penuh misteri dan ketidakpastian sebelum saya akhirnya mengetahui hasilnya.

Saya ingat perasaan saya. Saya tidak bisa membayangkan apa yang sedang terjadi karena saya hanya seorang diri di penjara. Saya berbaring di alas tipis di atas semen; saya menangis, saya berdoa, saya memupuk rasa kasihan terhadap diri sendiri. Saya tidak dapat tidur di tengah-tengah tangisan dan teriakan yang terdengar dari sel-sel lain. Sangat aneh, saya belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Rasanya seperti mimpi buruk! Benar-benar tidak nyata. Tetapi karena saya harus terus mengusir kecoak-kecoak dari tangan saya, saya baru sadar betapa nyatanya semua ini. Ini bukanlah sebuah mimpi!

Dokter yang memeriksa saya sebelum saya masuk ke sel pertama menjadi panik setelah dia memeriksa tekanan darah saya. Dia meminta petugas menempatkan saya di sel yang dekat dengan posnya agar dia bisa menjemput dan memeriksa saya di kantornya sampai malam. Dia sangat memerhatikan saya terutama saat dia tahu bahwa saya pernah mendapat serangan jantung beberapa tahun sebelumnya.

Setelah itu saya merasakan untuk kedua kalinya rasa mengasihani diri yang terburuk, yaitu ketika saya berada di penjara yang ketiga. Saya diberitahu bahwa seorang donatur yang sangat dermawan menyediakan uang 0,000 untuk menjadi jaminan bagi saya. Karena saya berpikir bahwa ketika mereka menjemput saya dari sel saya saya akan dibebaskan, maka saya sangat merasa terpukul ketika saya dipindahkan ke kota dan penjara yang lain sebelum uang itu datang.

Di penjara ketiga inilah saya sangat marah dan kecewa. Saya dimasukkan ke sel yang mereka sebut "tangki" bersama sekitar lima belas pria lainnya. Sel itu cukup kecil dan semua orang terbaring di lantai sehingga untuk berjalan pun sulit. Saya mengambil posisi di bangku kecil yang terletak di ujung sel.

Selama 12 jam saya duduk di ujung sel sambil menggerutu. Bagian belakang saya terasa nyeri. Bangku tersebut sangat tinggi sehingga kaki saya tidak bisa menyentuh lantai. Sungguh sangat tidak nyaman! Walaupun di penjara sebelumnya saya telah menjadi saksi Kristus lewat konseling dengan tahanan lainnya, di penjara ini saya terus menggerutu mengasihani diri sendiri sampai Tuhan mengubah persepsi saya.

Allah berbicara

Saat itulah Allah berbicara kepada saya, "Di manakah mahkota berduri? Aku tidak melihat darah. Di manakah paku? Aku tidak melihat salib. Di manakah hinaan dan cemooh? Aku tidak melihatmu dalam kondisi yang tidak nyaman. Kapan mereka mencambukmu? Apakah kamu menderita sebanyak yang kamu pikirkan?" Setelah itu, sikap saya akhirnya berubah dan saya memfokuskan pikiran saya tentang Dia yang menjadi inti dari semuanya. Di dalam sel itu, Dia mengizinkanku bersaksi kepada semua orang. Selama lebih dari 2 jam, saya menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dan mempersaksikan Kristus. Terkadang sel itu sunyi senyap sampai-sampai saya dapat mendengar suara napas mereka. Pada waktu lain, sel tersebut meledak dengan tawa.

Ketika saya membiarkan diri saya mengasihani diri sendiri, saya tidak berguna bagi Tuhan. Saya lumpuh ketika mata saya terpaku pada DIRI sendiri. Tidak ada kuasa Roh Kristus yang bekerja dalam diri saya, kecuali saya mengarahkan pikiran saya kepada DIA. Saat saya "memikirkan hal-hal yang dari daging", tidak akan ada kesaksian-Nya lewat saya kepada orang-orang ini. Saya adalah satu-satunya orang Kristen di sel.

Ketika saya mengarahkan pikiran pada "hal-hal yang di atas", saya mampu melakukan hal-hal yang sebelumnya saya anggap mustahil. Tuhan, dengan kemurahan-Nya, mengizinkan saya "menebus waktu" saya. Ketika pengacara saya akhirnya tiba dan nama saya dipanggil ke ruang konferensi, dan ketika saya melangkahi tubuh orang-orang yang ada di antara saya dan pintu sel, setiap dari mereka berkata, "Tuhan memberkatimu." Begitu saya tiba di pintu penjara itu, air mata telah mengalir di wajah saya. Saya berbalik dan mengangkat tangan saya ke langit dan berkata, "Kiranya Tuhan memberkati kalian dan mengungkapkan diri-Nya kepada kalian." Setelah saya selesai mengucapkan hal itu, sel itu penuh dengan orang yang berkata, "Jangan lupa doakan kami." Tangan melambai-lambai di jeruju-jeruji besi saat petugas mengantarku menuju kebebasan dengan uang jaminan. Aku mendengar mereka satu demi satu berseru, "Doakan saya!"

Kemarahan Yesus

Paling tidak tiga kali kemarahan Yesus menyala-nyala terhadap hal-hal yang sangat Dia benci: pada peristiwa penyucian Bait Allah, kecaman-Nya yang pedas terhadap kemunafikan orang-orang Farisi, dan pada peristiwa ketika Petrus berkata kepada-Nya untuk mengasihani diri sendiri.

Iblis mencobai Yesus untuk mengasihani diri sendiri paling tidak sebanyak dua kali. "Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar. Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: `Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.`" (Lukas 4:2-3) Yesus tidak mau mengasihani diri-Nya sendiri. Mengasihani diri sendiri juga tidak dibenarkan untuk kita.

Ya, Yesus menolak ajakan untuk mengasihani diri sendiri. Yesus menegur Petrus dengan keras. "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." (Matius 16:23) Bisa Anda bayangkan Yesus menganggap kata-kata Anda berasal dari Iblis? Bayangkan bahwa Yesus mengatakan bahwa Anda adalah "batu sandungan" bagi Yesus! Mengapa Yesus memberikan teguran keras ini kepada Petrus? Apakah hal itu tidak terlalu berlebihan? Ketika Anda membaca catatan kaki ayat tersebut pada Alkitab King James Version, Anda akan melihat bahwa tanggapan Yesus yang keras menunjukkan ketidaksukaannya yang sangat mendalam terhadap rasa mengasihani diri sendiri.

Inilah yang tertulis dalam catatan kaki tersebut: "Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: `Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.` (`Kiranya Allah menjauhkan hal itu` dalam bahasa Ibrani berarti `Kasihanilah diri-Mu sendiri`)." (Catatan kaki King James Version, Matius 16:22) Petrus meminta Yesus untuk mengasihani diri-Nya sendiri. Yesus tidak hanya diam saja mendengar hal itu, tetapi Ia juga menolaknya dengan teguran yang keras. Yesus tidak membiarkan pikiran mengasihani diri sekecil apa pun masuk ke dalam pikiran-Nya.

Sebuah contoh lain atas penolakan Yesus terhadap rasa mengasihani diri sendiri adalah saat [para prajurit Romawi] meminta Simon [orang Kirene] membawa salib untuk Yesus. "Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, lalu diletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus. Sejumlah besar orang mengikuti Dia; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia. Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: "Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!`" (Lukas 23:26-28) Yesus tidak mau mereka menangisi Dia dan merasa mereka telah berbuat sesuatu untuk-Nya. Tanpa Dia sebagai Juru Selamat mereka, mereka dan anak-anak mereka akan selamanya dipisahkan dari Allah. Yesus tidak mau menerima rasa kasihan mereka dan Dia memberikan perspektif yang benar bagi wanita-wanita ini dan bagi kita.

Yesus dilahirkan untuk tujuan ini. Tidak ada ratapan dan tindakan apa pun yang dapat mencegah Yesus dari tekad-Nya mencapai tujuan-Nya. Cara kita satu-satunya melawan godaan hebat untuk mengasihani diri sendiri adalah dengan melakukan apa yang akhirnya saya lakukan di sel itu dengan semua orang di sana: "lihatlah kepada Yesus sang `Pencipta` dan `Penuntas` iman kita; yang demi sukacita yang ada di hadapan-Nya telah menghadapi salib, dan menanggung hinaan" Jika kita bisa mengalihkan pikiran kita dari diri sendiri kepada Yesus, hal ini akan membawa kita ke suatu tempat yang dapat membuat kita bersama-sama Paulus berkata, "Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita." (Roma 8:18)

Dengan sikap ini, kita akan menjadi serupa dengan Allah. Taati Alkitab yang berkata kepada kita, "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yohanes 2:6)

"Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala." (5:21) Terutama berhala mengasihani diri sendiri yang licik! (t/Uly)

Diterjemahkan dan disunting dari:
Judul artikel asli: Self Pity
Nama situs: SingleVISION Ministries
Penulis: A. Gene Veal
Alamat URL: http://www.seegod.org/self_pity.htm

Categories: , , ,

"EKKLESIA" -- GEREJA

                
(Oleh: John Stott)

Pertanyaan yang harus kita ajukan sebelum kita mulai ialah: Apakah
gereja itu sebenarnya?

Gereja adalah jemaat, suatu perhimpunan orang yang memperlihatkan
eksistensi, solidaritas, yang berbeda dari perhimpunan-perhimpunan
lain untuk satu hal, yakni "panggilan Allah".

Semua itu dimulai dari Abraham, yang dipanggil Allah untuk
meninggalkan negerinya sendiri dan keluarganya. Allah berjanji kepada
Abraham bahwa ia akan diberikan negeri dan kaum keluarganya akan
menjadi suatu bangsa yang besar, dan melaluinya segala bangsa di muka
bumi ini akan diberkati. Berulang kali perjanjian anugerah ini
ditegaskan kepada Abraham, yakni melalui keturunannya semua bangsa di
bumi akan diberkati.[1] Janji ini selanjutnya ditegaskan kepada Ishak,
dan kepada Yakub. Tetapi Yakub meninggal di dalam tawanan. Demikian
juga anaknya yang terkenal, Yusuf.

Memang, di akhir kitab Kejadian dijelaskan bahwa sesudah Yusuf
meninggal dunia, mayatnya dibalsam dan "ditaruh dalam peti mati di
Mesir." (Kejadian 50:26) Namun langkah-langkah pertama menuju
penggenapan janji Allah baru terjadi ketika Ia, melalui Musa, dari
keturunan Lewi bin Yakub, menyelamatkan bangsa itu dari perbudakan.
"Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil
anak-Ku itu." (Hosea 11:1) Tiga bulan sesudah keluar mereka memasuki
padang gurun Sinai, dan Tuhan memerintahkan Musa untuk mengatakan
kepada bangsa itu:

"Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang
Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap
rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. Jadi sekarang, jika kamu
sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada
perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri
dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh
bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan iman dan bangsa yang
kudus." (Keluaran 19:4-6)

Maka perjanjian disahkan, hukum diberikan, kemah suci didirikan, dan
ibadah dimulai. Kemudian tanah perjanjian ditaklukkan, dan setelah itu
pemerintahan diteguhkan. Tetapi semuanya itu berakhir dengan
malapetaka. Umat Allah melanggar perjanjian-Nya, menolak hukum-Nya,
dan meremehkan nabi-nabi-Nya, sehingga tidak ada pertolongan bagi
mereka. Penghukuman Allah ditimpakan atas mereka, dan penawanan kedua
(ke Babel) dimulai.

Namun Allah tidak membiarkan umat-Nya. Pada waktunya, sesuai dengan
janji-Nya, Ia akan memberkati mereka. Ia memanggil mereka keluar dari
Babel -- sebagaimana Ia telah memanggil mereka keluar dari Mesir --
serta mengembalikan mereka ke tanah air mereka sendiri. Seperti yang
dikatakan Allah melalui Yeremia:

"Sebab itu, demikianlah firman Tuhan, sesungguhnya waktunya akan
datang, bahwa tidak dikatakan orang lagi: Demi Tuhan yang hidup
yang menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir!, melainkan:
Demi Tuhan yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari
tanah utara dan dari segala negeri kemana Ia telah
mencerai-beraikan mereka! Sebab Aku akan membawa mereka pulang
ke tanahyang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka."
(Yeremia 16:14-15)

Tetapi Allah juga telah menjanjikan bahwa melalui umat-Nya Ia akan
memberkati semua bangsa di dunia; dan ini digenapi melalui Kristus.
Sebab panggilan Allah -- mula-mula kepada keluarga Abraham dari Ur dan
dari Haran untuk memasuki tanah Kanaan, kemudian terhadap keturunan
Yakub dari Mesir, dan setelah itu terhadap sisa-sisa suku Yehuda dari
Babel -- semuanya memberikan bayangan akan suatu panggilan yang lebih
baik, penebusan yang lebih besar, dan warisan yang lebih berlimpah.
Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, Allah bermaksud memanggil
keluar dari dunia ini suatu umat pilihan bagi diri-Nya sendiri,
menebus mereka dari dosa, dan membuat mereka mewarisi janji-janji
keselamatan-Nya.

Maka gereja adalah umat Allah, "ekklesia"-Nya, yang dipanggil keluar
dari dunia ini untuk menjadi milik-Nya, dan eksis sebagai entitas yang
sungguh-sungguh ada dan terpisah, semata-mata hanya karena panggilan-
Nya. Perjanjian Baru sangat menuntut serta menekankan hal ini. Allah
telah memanggil kita "kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus
Kristus, Tuhan kita," memanggil kita "menjadi milik Kristus". (1
Korintus 1:9, Roma 1:6) Panggilan ilahi ini adalah suatu "panggilan
kudus". (2 Timotius 1:9, 1 Tesalonika 4:7) Allah memanggil kita untuk
hidup kudus karena Dia adalah Allah yang kudus, dan "supaya hidup
[kita] sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan
panggilan itu" (1 Petrus 1:15,16; Efesus 4:1), sehingga dengan kuasa
penyucian dari Roh Kudus kita boleh berubah di dalam karakter dan
tingkah laku sesuai dengan status kita, yakni sebagai "orang-orang
kudus", yang berbeda, terpisah; umat yang dikuduskan bagi Allah.[2]

Namun, panggilan itu tidak dimaksudkan agar gereja menarik diri keluar
dari dunia kepada kehidupan pietisme. Sebagaimana yang dikemukakan
oleh Uskup Lesslie Newbigin, "Gereja ... adalah sekelompok musafir
yang sedang dalam perjalanan menuju akhir dari dunia dan waktu." Dan
pula, gereja merupakan khafilah umat Allah. Mereka sedang bergerak --
bergegas menuju akhir dari dunia ini dan memohon agar semua orang
didamaikan dengan Allah, dan bersegera menuju akhir waktu untuk
menjumpai Tuhannya yang akan mengumpulkan semua orang menjadi satu.

Itulah sebabnya, lebih lanjut Newbigin mengemukakan, "Gereja tidak
mungkin dimengerti secara tepat kecuali di dalam suatu sudut pandang
misioner dan eskatologis sekaligus."[3] Oleh karena itu, penulis-
penulis Perjanjian Baru mengemukakan, Allah yang telah memanggil kita
keluar dari dunia ini telah mengutus kita kembali ke dalam dunia:

"Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang
kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan
perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil
kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib."
(1 Petrus 2:9)

Dia juga telah memanggil kita sebagaimana Kristus telah menderita
karena perlakuan yang tidak adil di dunia ini, dan melalui
penderitaan-Nya Dia telah memanggil kita "kepada kemuliaan-Nya yang
kekal dalam Kristus." (1 Petrus 2:20,21; 5:10)

Demikianlah gereja, umat Allah, yang dipanggil keluar dari dunia bagi
Dia sendiri, dipanggil untuk suatu misi, dipanggil untuk menderita,
dan dipanggil melalui penderitaan kepada kemuliaan.

Gereja Allah adalah Gereja yang Esa

Panggilan terhadap gereja ini juga merupakan panggilan terhadap
seluruh gereja dan setiap anggota dari gereja, tanpa suatu perbedaan
atau pembagian apa pun. Sebelumnya, panggilan Allah hanya ditujukan
kepada Abraham dan keturunannya, yang secara jasmaniah adalah bangsa
Israel, sedangkan bangsa-bangsa non-Yahudi "tidak termasuk kewargaan
Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang
dijanjikan." (Efesus 2:12) Namun sekarang janji kepada Abraham itu
telah menjangkau dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain juga. Maka
Paulus menuliskan kepada jemaat di Efesus:

"Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu `jauh`,
sudah menjadi `dekat` oleh darah Kristus. Karena Dialah damai
sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang
telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan
matinya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan
segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya
menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu
mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di
dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan
perseteruan pada salib itu." (Efesus 2:13-16)

Kita tidak boleh menghilangkan penjelasan Rasul Paulus mengenai
peniadaan dan penciptaan ini. Allah telah meniadakan (menghapuskan)
aspek dari hukum Taurat itu yang telah membuat Israel menjadi bangsa
yang terpisah, dan Dia menciptakan "seorang manusia baru."

Umat manusia yang baru ini, yakni gereja, merupakan perkumpulan yang
mengagumkan dan meliputi banyak hal. Kristus telah meniadakan lebih
dari sekadar penghalang-penghalang kesukuan dan kebangsaan; Dia telah
menghapuskan juga penghalang-penghalang kelas dan gender: "... tidak
ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang
merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah
satu di dalam Kristus Yesus." (Galatia 3:28) Hari-hari diskriminasi
telah berlalu. Umat Kristus yang baru telah diciptakan di dalam gereja
tanpa memedulikan perbedaan suku bangsa, tingkatan, ataupun jenis
kelamin. Ini tidak berarti bahwa persamaan di dalam kekristenan itu
sinonim dengan anarki -- sebab Paulus juga mengimbau para istri agar
taat terhadap suaminya dan budak-budak tunduk terhadap tuannya, tetapi
lebih berarti bahwa segala hak istimewa dan berkat rohani di hadapan
Allah telah dikeluarkan:

"Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani.
Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya
bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa
yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan." (Roma 10:12,13)

Sebagai akibatnya, semua orang Kristen yang percaya, baik Yahudi
maupun non-Yahudi, laki-laki atau perempuan, budak atau orang merdeka,
orang Yunani yang terpelajar atau orang barbar yang tidak beradab
adalah "kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota
keluarga Allah", dan juga "ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh
dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus karena
berita Injil." (Kolose 3:11, Efesus 2:19, 3:6) Di dalam ayat-ayat ini
Paulus memakai empat kata majemuk dari bahasa Yunani yang kemudian
diterjemahkan menjadi "para kawan sewarga" ("sumpolitai"), "para ahli
waris" ("sugkleronoma"), "para anggota" ("sussoma"), dan "para
pengambil bagian" ("summetocha")[4] untuk menegaskan dengan sejelas
mungkin mengenai partisipasi umum yang tidak boleh dibeda-bedakan dari
seluruh umat Allah dalam segala berkat yang terdapat di dalam Injil.
Paulus juga mengajarkan kebenaran yang sama dalam daftar kesatuan yang
dibuatnya:

"Hanya ada satu tubuh dan satu Roh, sebagaimana kamu telah
dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam
panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan
Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di
dalam semua." (Efesus 4:4-6)

Tetapi apakah kaitan atau hubungan antara hal ini dengan buku mengenai
kaum awam? Mengapa saya berpikir bahwa penting sekali bagi kita untuk
mempertegas kembali mengenai peniadaan hak istimewa dan penciptaan
satu umat yang baru dengan persamaan hak ini? Masalah sebenarnya dalam
sistem yang membedakan antara pendeta dengan kaum awam nampaknya hanya
sebagai usaha menentang dasar kesamaan dan kesatuan umat Allah. Hal
yang senantiasa dilakukan sistem ini, yakni memusatkan kekuasaan dan
hak istimewa di tangan pendeta, telah menyembunyikan, bahkan
membinasakan hakikat kesatuan umat Allah.

Kedua pihak yang telah disatukan oleh Kristus dipisahkan menjadi dua
lagi oleh pemikiran sistem ini, yang satu lebih tinggi dan yang
lainnya lebih rendah, yang satu aktif dan yang lainnya pasif, yang
satu benar-benar penting karena sangat diperlukan bagi kehidupan
gereja, yang lainnya tidak terlalu diperlukan sehingga tidak terlalu
penting. Saya tidak ragu-ragu mengatakan bahwa menafsirkan gereja
dipandang dari segi pembedaan kasta yang memberikan hak istimewa
kepada golongan pendeta, atau struktur yang bersifat hierarki, berarti
menghancurkan doktrin Perjanjian Baru mengenai gereja.

Tetapi kita memunyai kebebasan menafsirkan gereja dipandang dari sudut
pandang seorang pendeta, dan mudah sekali bagi orang-orang yang
berpikiran demikian tergelincir ke dalam pola pemikiran di atas. Untuk
memaparkan hal ini, kita akan meninjau kembali beberapa penggambaran
penting berdasarkan Alkitab mengenai gereja. Kita tidak dapat
melakukan pemeriksaan secara lengkap dan mendalam, tetapi pemeriksaan
kita akan cukup untuk membuktikan hal ini: setiap gambaran Alkitab
mengenai gereja memberikan iluminasi mengenai hubungan antara umat
Allah dengan Allah sendiri di dalam Kristus dan/atau dengan sesamanya.
Hanya sedikit perhatian diarahkan kepada golongan pendeta sebagai
pihak ketiga yang berbeda dari yang lainnya. Dengan kata lain, dalam
pemaparan sifat dan tugas gereja, kebanyakan pokok pikiran Perjanjian
Baru bukanlah mengenai kedudukan pendeta, juga bukan tentang hubungan
antara pendeta dan kaum awam, melainkan mengenai keseluruhan umat
Allah dalam hubungan mereka dengan Dia dan antara satu dengan yang
lain; umat yang khusus yang telah dipanggil oleh anugerah-Nya untuk
menjadi ahli waris-Nya serta duta-Nya di dunia.

Kiasan-Kiasan tentang Gereja

Tiga di antara gambaran yang paling indah mengenai gereja dalam
Perjanjian Baru diambil dari Perjanjian Lama. Ketiganya melukiskan
umat Allah sebagai pengantin wanita-Nya, kebun anggur-Nya, dan kawanan
domba-Nya. Semuanya menyoroti hubungan langsung yang telah diteguhkan
Allah dengan umat-Nya dan yang telah mereka nikmati bersama-Nya.

Allah telah memandang Israel sejak masa mudanya, mempertunangkan dia
dengan diri-Nya sendiri sebagai pengantin perempuan-Nya, untuk
selanjutnya memasuki perjanjian nikah dengan-Nya. (Yehezkiel 16,
Yeremia 2:2, 31:32, Yesaya 62:5) Tetapi kemudian Allah mengeluh
tentang ketidaksetiaan Israel, dan tindakan-tindakan persundalan serta
perzinahannya (Hosea 2).

Allah telah mengambil sebatang pohon anggur dari Mesir dan menanamnya
di Kanaan, sebuah "lereng bukit yang subur." Di sana pohon itu berakar
dan bertumbuh memenuhi negeri itu. Ia mendirikan sebuah menara jaga di
tengah-tengahnya untuk mengawasinya dan sebuah tempat memeras anggur
untuk mempersiapkan panen anggur. Ia mengharapkan kebun anggur-Nya itu
menghasilkan buah anggur yang baik tetapi yang dihasilkannya ialah
buah-buah anggur yang asam. Maka Allah membiarkan kebun anggur-Nya
diinjak-injak dan ditelantarkan. Allah menantikan Israel berbuah
keadilan, tetapi yang dihasilkannya adalah buah kelaliman; Dia
mengharapkan kebenaran, namun yang ada hanya keonaran (Mazmur 80:9-20,
Yesaya 5:1-7).

Allah adalah Gembala Israel. Dia menggiring Yusuf bagaikan kawanan
domba. Sebagaimana Dia telah membebaskan mereka dari perbudakan di
Mesir, "mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala",
demikian juga sesudah penawanan di Babel Dia akan menghimpun domba-
domba-Nya dalam tangan-Nya, anak-anak domba dipangku-Nya dan induk-
induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati (Mazmur 80:2, Yesaya 63:9,
40:11).

Setiap gambaran di atas menekankan tindakan langsung dari kehendak
Allah terhadap umat-Nya sebagai satu bangsa, pemerintahan yang berasal
dari-Nya; Ia berinisiatif menyelamatkan mereka. Allah memilih Israel
sebagai pengantin wanita-Nya, Ia menanam dan merawat kebun anggur-Nya,
dan Ia menggembalakan kawanan domba-Nya. Dan ketika Yesus dengan
berani menerapkan kembali kiasan atau gambaran-gambaran ini untuk
diri-Nya, Dia bahkan lebih kuat menekankan hubungan pribadi yang
dimaksudkan oleh masing-masing kiasan itu.

Yesus adalah mempelai laki-laki, dan karena Ia hadir bersama-sama para
tamu maka mereka tidak pantas untuk berpuasa (Markus 2:18-20). Paulus
mengembangkan kiasan ini lebih rinci dengan penjelasan mengenai kasih
dan pengurbanan Kristus bagi gereja. Kepemimpinan-Nya atas gereja
serta tujuan akhir dari gereja ialah supaya gereja ditempatkan di
hadapan-Nya "dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang
serupa." (Efesus 5:27; 5:22-33) Pada akhir kitab Wahyu pertama-tama
kita membaca bahwa "hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan
pengantin-Nya telah siap sedia" dan "kota yang kudus, Yerusalem yang
baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin
perempuan yang berdandan untuk suaminya."(Wahyu 19:7, 21:2)

Yesus mengambil gambaran mengenai kebun anggur di dalam perumpamaan-
Nya mengenai penggarap-penggarap kebun yang jahat (Markus 12:1-12),
namun Dia juga melanjutkan hal itu, sebab Dia menegaskan bahwa Dia
sendirilah pokok anggur yang benar, carang-carangnya bergantung
kepada-Nya untuk dapat berbuah baik dengan tetap tinggal di dalam Dia
dan juga dengan dibersihkan oleh tukang-tukang kebun (Yohanes 15:1-8).

Yesus menyebut diri-Nya sendiri "Gembala Yang Baik" yang mencari serta
menyelamatkan domba yang hilang -- sekalipun hanya seekor domba-Nya
yang hilang, yang mempertaruhkan nyawa-Nya demi domba-domba-Nya, dan
yang memimpin mereka ke padang rumput yang segar serta melindungi
mereka dari ancaman serigala (Lukas 15:3-7, Yohanes 10).

Empat kiasan lainnya mengenai gereja yang terdapat di dalam Alkitab
intinya juga mengiluminasikan hubungan yang telah diteguhkan Allah
dengan umat-Nya, sekalipun semuanya itu juga menuntut pengertian lebih
lanjut.

Pertama, umat Allah adalah suatu kerajaan, tempat Allah menjalankan

peraturan-peraturan-Nya; "wilayah kekuasaan-Nya" (Mazmur 114:2).
Pemerintahan teokrasi Israel yang sesungguhnya, yang telah ditolak
ketika bangsa itu menuntut seorang raja seperti yang dimiliki oleh
bangsa-bangsa kafir, telah dipulihkan dan dirohanikan melalui Kristus.
Dalam menyelamatkan kita, Allah "telah melepaskan kita dari kuasa
kegelapan dan memindahkan kita ke dalam kerajaan Anak-Nya yang
kekasih" (Kolose 1:13) dan Kristus menjalankan pemerintahan-Nya di
antara umat-Nya melalui Roh-Nya, "sebab Kerajaan Allah bukanlah soal
makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan
sukacita oleh Roh Kudus." (Roma 14:17)

Selanjutnya, umat Allah adalah rumah tangga atau keluarga-Nya. Apa
yang samar-samar terbayang di dalam Perjanjian Lama, yaitu ketika
Israel disebut anak Allah (Hosea 11:1), secara lengkap dipaparkan di
dalam Perjanjian Baru. Di dalam Kristus, Allah melahirkan kita
kembali, menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya, mengadopsi kita ke
dalam keluarga-Nya, serta mengirim Roh-Nya ke dalam hati kita sehingga
kita boleh memanggil Dia "Abba, Bapa."[5] Banyak hal dalam kehidupan
Kristen ditentukan -- seperti yang diajarkan Yesus -- oleh hubungan
yang intim dan terbuka seperti gambaran Allah dengan anak ini. Kita
tidak perlu lagi merasa khawatir memikirkan segala kebutuhan hidup
kita sehari-hari, karena Bapa surgawi kita mengetahui segala yang kita
perlukan. Kita cukup menyesuaikan diri dengan-Nya, dengan kerajaan-Nya
dan kebenaran-Nya, menyerahkan diri kita dan kehidupan kita sehari-
hari kepada-Nya, memercayai Dia yang memelihara kita, serta percaya
bahwa segala yang kita perlukan akan Ia berikan (Matius 6:7-13, 25-34,
7:7-11).

Ketiga, umat Allah adalah suatu bangunan "yang tidak dibuat oleh
tangan manusia", suatu bangunan yang dirancang oleh Allah sendiri,
bait Allah rohani yang dibangun kembali, dengan Yesus sebagai satu-
satunya dasar -- seperti yang dipersaksikan oleh para rasul dan para
nabi -- dan Roh Kudus di tempat mahasuci (1 Korintus 3:11, 16, Efesus
2:20-22).

Keempat, umat Allah adalah tubuh Kristus, gambaran yang paling
menonjol di dalam surat-surat Paulus dan satu-satunya yang tidak
memunyai padanan dengan Perjanjian Lama, dengan Kristus sebagai Kepala
yang mengatur dan memberi makan seluruh tubuh-Nya dan Roh Kudus
sebagai nafas yang memberi inspirasi kepada [gereja] (Efesus
4:4,15,16, Kolose 2:19).

Tetapi masing-masing dari keempat gambaran ini lebih dari sekadar
memberikan iluminasi mengenai hubungan antara Allah dengan umat-Nya.
Masing-masing menggambarkan juga hubungan-hubungan timbal balik serta
tugas dan tanggung jawab yang dimiliki umat Allah. Kita adalah kawan
sewarga dari kerajaan Allah, saudara-saudara di dalam keluarga, batu-
batu hidup untuk pembangunan rumah yang rohani, dan lebih dari
semuanya itu, anggota-anggota tubuh Kristus, yang bukan hanya menerima
hidup dan perintah dari Kepala, tetapi kita sendiri berperan aktif dan
saling bergantung satu dengan yang lainnya, dan oleh karenanya kita
tidak boleh saling merendahkan atau iri terhadap yang lain (1 Korintus
12:14-26).

Banyak Kiasan -- Satu Berita

Semua kekayaan kiasan ini menunjukkan maksud yang sama. Dalam setiap
gambaran itu penekanannya adalah pada inisiatif Allah yang sangat
ramah. Dia sebagai Suami, [Pemilik Kebun], Gembala, Raja, Bapa,
Pembuat Bangunan, dan [Kepala]. Umat-Nya sebagai sekelompok orang yang
ditebus, baik sebagai pengantin-Nya, kawanan domba-Nya, keluarga-Nya,
tubuh-Nya, dan lain-lain. Hubungan satu dengan yang lain sebagai
carang-carang pada Pokok Anggur yang sama, domba-domba dalam kawanan
yang sama, anak-anak di dalam keluarga yang sama, anggota-anggota
tubuh yang sama. Tidak ada satu pun kiasan, baik yang menunjang maupun
yang menentang, membicarakan mengenai pendeta. [Subjek tentang
pendeta] sama sekali bukan yang dimaksud oleh Alkitab mengenai gereja.

Tepat sekali Paulus menyamakan dirinya dengan sahabat mempelai laki-
laki pada pesta perkawinan, seperti yang juga diungkapkan Yohanes
Pembaptis sebelumnya (2 Korintus 11:2, Yohanes 3:29). Dia juga
membicarakan mengenai pelayanan mengajar yang dilakukannya bersama
Apolos di Korintus dengan gambaran orang yang menanam dan menyiram
benih di ladang Tuhan dan orang yang meletakkan dasar serta membangun
rumah Tuhan (1 Korintus 3:5-15). Sama halnya, pelayan-pelayan gereja
juga digambarkan sebagai gembala-gembala pengawas yang dipercayakan
memelihara kawanan domba[6] sebagai hulubalang-hulubalang kerajaan,
sebagai pelayan-pelayan rumah tangga, dan sering kali juga digambarkan
sebagai pengasuh-pengasuh di dalam keluarga[7]. Di samping itu juga,
meskipun setiap orang Kristen di gereja sebagai anggota tubuh Kristus
memunyai peranannya masing-masing, namun beberapa organ nampak
memunyai peranan yang lebih penting daripada yang lainnya, misalnya,
kepala lebih penting dari kaki dan mata lebih penting dari tangan (1
Korintus 12:21), meskipun masing-masing saling membutuhkan dan tidak
dapat melepaskan diri.

Meskipun demikian, setiap uraian menunjukkan suatu tambahan pada
kiasan itu. Kiasan atau gambaran itu sendiri sudah lengkap tanpa
tambahan-tambahan tersebut, dan lebih jelas lagi dikatakan, tidak
bergantung pada hal-hal tambahan itu. Semuanya memunyai bagian masing-
masing untuk dilakukan, tetapi hanya sebagai bagian yang bersifat
tambahan, dan boleh ditambahkan, bagian yang dapat digantikan. Seorang
sahabat pengantin laki-laki memang memunyai peranan yang sangat
penting pada pesta perkawinan, tetapi tanpa dia pun pengantin pria dan
wanita dapat tetap melangsungkan pernikahan mereka. Pelayan-pelayan
dan perawat-perawat sangat berperan penting dalam suatu rumah tangga,
tetapi seorang ayah tidak akan membiarkan anak-anaknya mati hanya
karena tidak ada mereka. Tidak. Kebenaran-kebenaran yang paling
penting yang digarisbawahi oleh kiasan-kiasan mengenai gereja ini
ialah sikap Allah yang ramah terhadap umat-Nya dan tugas-tugas mereka
yang bertanggung jawab terhadap Dia dan terhadap yang lainnya.

Kesatuan hakiki gereja, yang dimulai di dalam panggilan Allah dan
digambarkan di dalam kiasan-kiasan Alkitab, memimpin kita sampai pada
kesimpulan ini: Segala tanggung jawab yang dipercayakan Allah kepada
gereja-Nya telah dipercayakan-Nya kepada seluruh Gereja-Nya. Siapakah
mereka yang dimaksudkan? "Kamu yang dahulu bukan umat Allah," Petrus
menulis, "tetapi sekarang telah menjadi umat-Nya." Dan dia menjelaskan
lebih lanjut, umat Allah adalah imamat kudus, [yang diciptakan] untuk
mempersembahkan kepada-Nya persembahan-persembahan yang rohani dan
yang berkenan kepada-Nya berupa puji-pujian dan doa, dan juga suatu
umat yang misioner, [yang diciptakan] untuk memberitahukan kepada
orang-orang lain perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah mereka,
Allah yang telah memanggil mereka kepada terang-Nya yang ajaib dan
yang telah menaruh belas kasihan atas mereka (1 Petrus 2:5,9,10).
Singkatnya, umat Allah memiliki tujuan untuk menjadi persekutuan
orang-orang yang beribadah kepada Dia serta menyaksikan kemuliaan dan
kebesaran-Nya. Dan kedua tugas ini menjadi tanggung jawab segenap
gereja sebagai Gereja-Nya. Pendeta tidak dapat memonopolinya, demikian
juga kaum awam atau jemaat tidak boleh melarikan diri dari tanggung
jawab ini. Baik pendeta maupun anggota jemaat tidak dapat melimpahkan
tanggung jawab ini kepada orang lain; tidak mungkin ibadah dan
kesaksian diwakili oleh orang lain.

Mempertahankan hal ini adalah suatu koreksi yang sehat terhadap sistem
yang terlalu melebih-lebihkan pendeta, yang sudah terlalu sering dan
cukup lama menempatkan kaum awam dan menyingkirkan mereka ke posisi
yang lebih rendah dan nonaktif. Hal ini tentu saja juga mengaburkan
gambaran mengenai gereja. Sudah barang tentu, Allah memanggil pendeta
untuk suatu tugas yang penting, namun kedudukan mereka harus selalu
tunduk kepada gereja secara keseluruhan, sebagai persekutuan yang
ditebus oleh Allah sendiri. Kaum awam hanya akan menemukan tempat
mereka yang sesungguhnya jika kebenaran yang sederhana ini disadari,
yakni pendeta berada di tengah-tengah mereka untuk melayani gereja,
bukannya gereja melayani pendeta. Agar benar-benar mengerti kebenaran
ini, kita harus menemukan kembali ajaran Alkitab mengenai gereja
sebagai umat Allah, dan khususnya kebenaran-kebenaran ini -- yakni
bahwa dalam hal kedudukan dan hak umat Allah oleh panggilan-Nya
dipersatukan dan tidak dapat dibedakan, dan bahwa mempersembahkan
ibadah serta bersaksi kepada dunia merupakan hak yang tidak dapat
dicabut serta tugas dari jemaat yang satu ini, yakni keseluruhan
gereja, pendeta bersama-sama kaum awam.

Catatan Kaki:
[1] Misalnya, Kejadian 22:17,18.
[2] Misalnya, Roma 1:7, 1 Korintus 1:2, lihat juga Kisah Para Rasul
15:14, Titus 2:14.
[3] Lesslie Newbigin, The Household of God, hal. 31,25 --
"eskhatologis," berasal dari kata "eskhatos" (akhir) atau
"eskhaton" (selesai), merujuk kepada akhir zaman dan hal-hal yang
terakhir, penyempurnaan yang terjadi di luar sejarah.
[4] Tidak ada padanan bahasa Indonesia yang tepat untuk kata-kata
gabungan tersebut. Buku "Satu Umat" menerjemahkan "fellow citizens"
- kawan sewarga; "fellow heirs" - ahli-ahli waris; "fellow members"
- anggota-anggota; dan "fellow partakers", peserta-peserta.
[5] Misalnya, 1 Yohanes 2:29-3:3, 3:9,10, Roma 8:14-17, Galatia 4:4-7.
[6] Misalnya, Kisah Para Rasul 20:28, 1 Petrus 5:1-4.
[7] Misalnya, Kisah Para Rasul 20:25, 1 Korintus 4:1, 1 Tesalonika 2:7.

----------------------------------------------------------------------
Diambil dan disunting dari:
Judul asli artikel: Perkumpulan Kristen (Ekklesia)
Judul buku: Satu Umat
Judul asli buku: One People
Penulis: John Stott
Penerjemah: Lena Suryana Himtoro
Penerbit: SAAT, Malang 1992
Halaman: 8--22 dan 140--141

Categories: , ,

Sunday, May 31, 2009

Triangle of Love





Akhirnya aku mau juga nulis mengenai konsep ini. Konsep yang aku percaya sebagai cara Tuhan untuk memberikan yang terbaik bagi kita dalam hal pasangan hidup. Sebelumnya mungkin bisa baca mengenai God's Mate Selection di artikel terdahulu. Ini hal yang aku rindukan Tuhan penuhkan dalam hidupku dan bisa terus sesuai dengan jalur ini.
Tapi lucu juga tadi waktu aku nyari di Google buat melengkapi bahan-bahan ternyata istilah triangle of love lebih akrab untuk menyebut hubungan cinta segitiga antar manusia saja dan justru itu bukan hubungan yang diinginkan Tuhan, apalagi waktu mau nyari image yang cocok untuk artikel ini yang ada justru gambar-gambar orang selingkuh. Aneh-aneh lagi ada yang selingkuhnya "normal" cowok dengan cewek tapi yang unik ada juga gambar yang menunjukkan selingkuh yang nyerong antara cewek dengan cewek dan cowok dengan cowok.
Triangle of Love merupakan konsepyang dipakai Allah untuk memberikan pasangan hidup yang terbaik bagi kita yang sesuai dengan kehendak Allah yaitu sepadan dengan kita. Segitiga ini terdiri dari laki-laki di satu kaki dan perempuan di kaki yang lain dengan Tuhan sebagai puncak segitiga tersebut. Setiap garis segitiga itu melambangkan garis hubungan antar tiap pribadi yang ada. Laki-laki dengan Tuhan, perempuan dengan Tuhan dan laki-laki dengan perempuan.
Sebenarnya sederhana saja konsepnya, Tuhan yang menjadi puncak segitiga itu artinya pasangan kita adalah orang yang memiliki hubungan dengan Allah bahkan bisa dibilang bahwa garis-garis kaki segitiga harus terbentuk terlebih dahulu dibanding dengan garis dasar segitiga. Artinya hubungan laki-laki dan perempuan baru bisa terbentuk saat mereka telah benar-benar memiliki hubungan pribadi dengan Allah yang baik dan pada akhirnya Tuhanlah yang menyatukan itu.

Banyak yang bilang kalau ini mirip dengan konsep jodoh, tapi saya bilang ini berbeda karena semuanya masih terganting pada kehendak bebas kita, Tuhan tidak memaksakan apapun, Dia hanya bilang
"Ini lho, yang terbaik buat kamu"
Mengenai tanggapan dan lain-lain semuanya masih bergantung pada kita, bukan seperti konsep jodoh di tangan Tuhan yang membuat seakan kemudian kita tidak perlu berbuat apa-apa, hanya menunggu dan mengikuti berjalannya waktu, seakan tanpa usaha, dan setiap hubungan akan kita jalani dengan biasa saja tanpa merasa perlu mengetahui kehendak Allah mengenai pasangan hidup dan memiliki pikiran di dalam hati
" Nyante aja dalam berhubungan, toh akhirnya Tuhan nanti akan mempertemukan aku dengan jodohku, kalau waktu itu tiba ya sudah tinggal diambil, atau ya tetep nyantai aja, toh jodoh tidak lari kemana"
Kalau aku bilang Tuhan ingin kita juga aktif, bukan hanya mencari secara duniawi melalui hubungan sosial dengan sesama tetapi aktif juga dalam mencari kehendak Tuhan mengenai pasangan hidup yang sepadan dengan kita (kalau buat laki2 : penolong yang sepadan).
Tidak ada cara mutlak atau saklek dalam Kristen untuk mencari atau menemukan pasangan hidup, tetapi ada banyak pedoman dalam Alkitab, kebanyakan bersifat umum tetapi beberapa juga bersifat khusus dan istimewa. Sejak SMA saya sudah belajar mengenai bagian ini, saya mengikuti suatu cara yang saya rasa sesuai dengan prinsip Firman Tuhan mengenai pencarian teman hidup. Saya membuat suatu list kriteria yang terdiri dari dua bagian besar yaitu kriteria primer dan kriteria sekunder. Kriteria primer berisi hak-hal paling prinsipil yang saya bilang tidak bisa ditawar sebagai kriteria teman hidup saya dan memiliki dasar Alkitab yang pasti dan jelas. Kriteria primer ini antara lain berisi mengenai jaminan keselamatan (kesepadanan iman/dasar hidup) dan tujuan hidup orang Kristen secara umum. Kriteria sekunder berisi kriteria2 lain yang mungkin awalnya akan sangat egois berisi keinginan2 kita mengenai pasangan hidup ideal menurut kita. Kritetia sekunder ini dapat dibagi2 juga dalam bagian yang labih kecil, mungkin mengenai kriteria fisik, intelektual, ras, ekonomi, rohani dan lain2. Kriteria2 ini kemudian kita ajukan kepada Tuhan dalam doa yang teratur. Melalui persekutuan pribadi dan setiap perjalanan hidup kita tiap hari kriteri2 ini akan semakin dibentuk dan dipertajam oleh Allah menjadi apa yang terbaik bagi kita. Pada suatu waktu kita akan merasakan ketertrikan pada lawan kenis kita, ini merupakan sesuatu yang normal, pedoman untuk langkah sekanjutnya adalah tentu saja melihat pada kriteria primer bila masuk, lanjutkan dengan melihat kriteria sekunder kita cocokkan. Bila meras yakin kita perlu mengetahui apakah lawan jenis kita itu sudah saatnya untuk mamulai hubungan yang lebih serius dari sekedar pertemanan, untuk mengetahuinya kita dapat tanyakan pada orang2 yang berotoritas terhadap orang itu, bisa orang tuanya, orang tua rohaninya(kakak KTB, komsel), keluarga yang lain, orang2 yang dekat dengannya yang bisa disebut lebih dewasa rohani, bila sudah kita dapat segera mengajukan permintaan untuk mulai mendoakan sebagai calon pasangan hidup (baca:nembak). Bila berkanjut akan masuk masa saling mendoakan, disini kita menjadi teman doa yang saling mendukung dan terus berdoa untuk mengetahui kehendak Tuhan yang sebenarnya, apakah dia yang terbaik bagi kita. Setelah melalui pergumulan ini kita dapat memutuskan untuk mendeklarasikan atau mengikat komitmen dalam bentuk yang sering disebut orang2 berpacaran, atau mungkin yang lebih serius lagi bertunangan. Dan pada akhirnya setelah segala perijinan dan syarat2 pernikahan terpenuhi kita dapat secara resmi terikat dalam janji pernikahan.
Ini cara yang saya percayai dapat membangun sisi tegak segitiga saya terlebih dahulu dengan tepat, baru kemudian menghubungkan sisi datarnya. Setiap hubungan yang kita lalui, setiap proses yang kita alami, diijinkan Tuhan terjadi untuk semakin menguatkan sisi tegak kita itu. Mungkin kita akan berkali-kali memiliki status teman doa, atau mungkin berpacaran dengan beberapa orang terlebih dahulu sebelum akhirnya menikah, itu semua baik dan benar asal dalam koridor rencana Allah.


Categories: , , , , , ,

Saturday, April 4, 2009

Paskah (Perjanjian baru)

Pada zaman para Rasul domba Paskah disembelih menurut upacara di Bait Suci. Tapi makanan Paskah itu boleh dimakan di setiap rumah dalam wilayah kota. Suatu kelompok yang terikat satu sama lain oleh ikatan-ikatan bersama, seperti Yesus dengan murid-Nya, boleh merayakan Paskah, seolah-olah mereka merupakan.keluarga, Jemaat Kristen segera sesudah penutupan kanon PB, sadar bahwa Perjamuan Kudus yang ditetapkan Yesus, menggantikan Paskah, dan bahwa inilah tujuan yang Dia maksud. (lihat Artikel PERJAMUAN YANG TERAKHIR sebagai sejenis PERJAMUAN PASKAH)


Image


Sesudah Bait Suci Yerusalem musnah tahun 70 M, orang Yahudi tidak mungkin lagi menyembelih domba korban sesuai tata upacara PL. Dan perayaan Paskah Yahudi kembali lagi menjadi perayaan keluarga, seperti yg dulu pada Paskah pertama, ibarat roda yang berputar kembali tepat pada permulaannya. Upacara minum anggur yg diharuskan paling sedikit empat kali yang merupakan pembaharuan kemudian hari, (barangkali) tidak luput dari kemungkinan penyalahgunaan. Masih tetap ada daya hidup dalam adat Yahudi itu. Kesulitan ini tidak dihadapi oleh umat Kristiani karena dalam keimanan Kristen, Yesus Kristus telah menggenapi kurban Paskah, ini tergambar jelas dengan gelar yang ditujukan kepadanya yaitu "Anak Domba Allah". Dari situ kita umat Kristiani, memperingati kurban paskah dengan Perjamuan Kudus yang sudah ditetapkan Yesus Kristus, seperti dalam ayat ini:


* Lukas 22:15-20
22:15 Kata-Nya kepada mereka: "Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita.
22:16 Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah."
22:17 Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: "Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu.
22:18 Sebab Aku berkata kepada kamu: mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang."
22:19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku."
22:20 Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.



bandingkan :


* 1 Korintus 10:16
Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?


* 1 Korintus 11:25
Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!"



Image
lihat artikel PERJAMUAN KUDUS


Paskah yang dirayakan oleh orang-orang Israel sebagai peringatan akan penyelamatan dari Allah kepada orang-orang Israel dari acaman dan perbudakan di Mesir adalah gambaran/ tipologi dari penyelamatan yang dilakukan oleh Allah yang inkarnasi, yaitu Yesus Kristus yang menyelamatkan manusia dari "perbudakan dosa" dan akibat-akibatnya.



Pada zaman Yesus Kristus, Perayaan Paskah menjadi semakin berarti bagi Gereja mula-mula, sebab menurut catatan Alkitab, sebelum dihukum mati, Yesus menyempatkan diri untuk mengadakan Perjamuan Paskah bersama murid-muridNya. Perjamuan Paskah, menurut tradisi Ibrani diadakan menjelang Hari Raya Pesakh (ערב פסח - 'EREV PESAKH), namun karena Yesus Kristus sendiri menjadi "domba paskah" pada saat 'Erev Pesakh ini, maka menurut beberapa tafsiran, Yesus Kristus mengadakan Perjamuan terakhir sebelum 'Erev Pesakh.


* Yohanes 19:14
LAI TB, Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: "Inilah rajamu!"
KJV, And it was the preparation of the passover, and about the sixth hour: and he saith unto the Jews, Behold your King!
HaBrit HaKhadasya, VAYOMAR 'EL-HAYEHÛDÛM BA'EREV HAPESAKH HAHÛ' KASYÂ'ÂH HASYISYÎT HINÊH MALKEKHEM
TR, ην δε παρασκευη του πασχα ωρα δε ωσει εκτη και λεγει τοις ιουδαιοις ιδε ο βασιλευς υμων
Translit, ên de paraskeuê tou paskha hôra de hôsei hektê kai legei tois ioudaiois ide ho basileus humôn


Dicatat dalam Alkitab kita bahwa Yesus Kristus dihukum mati menjelang Paskah (pada tanggal 14 bulan Nisan). MayatNya diturunkan cepat-cepat untuk menghormati Paskah. Pada hari yang ketiga setelah kematianNya, Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati dan menampakkan diri kepada banyak orang. Hari kebangkitan Kristus itu kemudian dirayakan sebagai Peringatan Paskah dalam kalender Gereja.


Image
Image


Begitu pentingnya Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus, sehingga Gereja Purba menjadikan Paskah sebagai pusat perayaan-perayaan Kristen. Bahkan sebelum tahun 313, Gereja Purba ini sebenarnya hanya mengenal satu perayaan Kristen, yaitu Paskah. Setelah tahun 313, Gereja mengenal perayaan Natal (Kelahiran Yesus Kristus). Dalam perkembangan waktu, perayaan Natal makin lama makin meriah. Kecenderungan itu membekas hingga kini.

Dengan demikian, kita paham bahwa Paskah adalah hari raya gerejawi yang paling dihormati. Selama ini penanggalan Paskah Kristiani sebagian besar mengikut penanggalan versi Ritus Latin (Katolik Roma), tetapi kalangan Protestan hanya mengambil sebagian saja (yaitu hari Jumat Agung dan Kebangkitan hari minggu). Paskah versi penanggalan versi Ritus Latin selalu jatuh pada hari Minggu (yang adalah "hari Tuhan") dengan tanggal beragam antara 22 Maret-25 April setiap tahunnya. Karena hari Minggu adalah "hari Tuhan", hari dimana Yesus Kristus bangkit dari kematian, kita umat Kristiani beribadah pada hari minggu.

sumber : http://www.sarapanpagi.org/hari-raya-paskah-pesakh-vt1920.html

Categories: ,

Paskah (Perjanjian Lama)

Kitab Keluaran pasal 12 yang merupakan titik berangkat penelitian cukup jelas tentang pokok-pokok berikut,


1. Paskah (Ibrani פסח – PESAKH), berasal dari kata kerja פסח – PASAKH yang artinya 'melewatkan' dengan makna 'menyelamatkan' (Keluaran 12:13, 27 dst).


* Keluaran 12:13
12:13 LAI TB, Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir.
KJV, And the blood shall be to you for a token upon the houses where ye are: and when I see the blood, I will pass over you, and the plague shall not be upon you to destroy you, when I smite the land of Egypt.
Biblia Hebraic Stuttgartensia (BHS), Hebrew with vowels,
וְהָיָה הַדָּם לָכֶם לְאֹת עַל הַבָּתִּים אֲשֶׁר אַתֶּם שָׁם וְרָאִיתִי אֶת־הַדָּם וּפָסַחְתִּי עֲלֵכֶם וְלֹא־יִהְיֶה בָכֶם נֶגֶף לְמַשְׁחִית בְּהַכֹּתִי בְּאֶרֶץ מִצְרָיִם׃
Translit, VEHAYAH HADAM LAKHEM LE'OT 'AL HABATIM ASYER 'ATEM SYAM VERA'ITI 'ET-HADAM 'UFASAKHTI 'ALEKHEM VELO-YIHYEH VAKHEM NEGEF LEMASYKHIT BEHAKOTI BE'ERETS MITSRAYIM

12:27 LAI TB, maka haruslah kamu berkata: Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita." Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah.
KJV, That ye shall say, It is the sacrifice of the LORD's passover, who passed over the houses of the children of Israel in Egypt, when he smote the Egyptians, and delivered our houses. And the people bowed the head and worshipped.
Hebrew,
וַאֲמַרְתֶּם זֶבַח־פֶּסַח הוּא לַיהוָה אֲשֶׁר פָּסַח עַל־בָּתֵּי בְנֵי־יִשְׂרָאֵל בְּמִצְרַיִם בְּנָגְפֹּו אֶת־מִצְרַיִם וְאֶת־בָּתֵּינוּ הִצִּיל וַיִּקֹּד הָעָם וַיִּשְׁתַּחֲוּוּ׃
Translit, VA'AMARTEM ZEVAKH-PESAKH HU LA'YEHOVAH ASYER PASAKH AL-BATEI VENEY-YISRA'EL BEMITSRAYIM BENAGPO 'ET-MITSRAYIM VE'ET-BATEINU HITSIL VAYIKOD HA'AM VAYISYTAKHAVU


Jelas, pandangan yg mengatakan bahwa Allah secara harfiah 'melewati' rumah-rumah orang Israel yg sudah beriabur darahdan membunuh orang-orang Mesir, mempunyai makna yang cocok. Istilah Paskah dipakai baik untuk perayaan maupun untuk hewan korban. Menurut Hebrew & English Lexicon of the Old Testament, dari Brown, Driver & Briggs (BDB) ada kata kerja seakar yang berarti 'berjalan pincang' dan ada teori lain (lihat T.H Gaster, Passover: Its History and Traditions, 1949, hlm 23-25). Tapi Kohler dan Baumgartner (KB) mengambil kesimpulan lain.


2. Bulan Abib (Ibrani, אביב - 'AVIV), yang kemudian disebut bulan Nisan (Ibrani, נִיסָן - NISAN), adalah bulan musim menuai dan waktu terjadinya Paskah pertama, dijadikan bulan pertama dari tahun Yahudi sebagai penghormatan (Keluaran 12:2; Ulangan 16:1; bandingkan Imamat 23:5; Bilangan 9:1-5; 28:16).


* Keluaran 12:2
LAI TB, "Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun.
KJV, This month shall be unto you the beginning of months: it shall be the first month of the year to you.
Hebrew,
הַחֹדֶשׁ הַזֶּה לָכֶם רֹאשׁ חֳדָשִׁים רִאשֹׁון הוּא לָכֶם לְחָדְשֵׁי הַשָּׁנָה׃
Translit, HAKHODESY HAZE LAKHEM ROSY KHODASYIM RISYON HU LAKHEM LEKHADSYEI HASYANA


3. Korban Paskah, apakah itu anak domba seperti yang umum dinalar? Dalam Ulangan 16:2 pemilihan binatang sembelihan itu pasti jauh lebih rinci, dalam Keluaran 12:3-5 hal itu merupakan soal tafsiran. Kata Ibrani שה - SEH (ayat 3), menurut BDB artinya adalah domba atau kambing, tanpa mempersoalkan umur, menurut KB artinya 'anak' domba atau kambing.

Ada juga persoalan tentang terjemahan setepatnya dari kata בן־שנה - BEN SYANAH (ayat 5), yg arti harfiahnya ialah 'anak berumur setahun'. Jika itu maksud yg sebenarnya, seperti dipertahankan oleh beberapa ahli, yakni binatang yg umurnya antara 12 dan 24 bulan (bandingkan Gesenius-Kautzsch Cowley, Hebrew Grammar,bg 128 v; G.B Gray, Sacrifice in the OT, 1925, hlm 345-351), maka yang dimaksud ialah domba atau kambing yang sudah besar. Tapi tafsiran tradisional yang mengambil umur 12 bulan sebagai batas umur teratas, bukan sebagai batas umur terbawah, sama sekali belum terbukti salah. Talmud pada umumnya cenderung membatasi domba Paskah itu dalam lingkungan kambing domba, dan lebih mengikuti Keluaran daripada Ulangan (lihat umpamanya Menakhot 7:6 bersama Gemara). Pilihan domba atau anak domba, domba atau kambing beberapa kali diizinkan (Pesakhim 8:2; 55b; 66a), tapi pendapat umum agak lebih cenderung memilih domba (Shabbath 23:1; Kelim 19:2; Pesakhim 69b; dst). Suatu keputusan tanpa menentukan setepatnya umur binatang korban Paskah itu, mengucilkan betina, atau jantan yang umurnya sudah lewat 2 tahun, yang secara diam-diam menopang tafsiran umur 1 tahun (Pesakhim 9:7). Tapi ada keterangan yg mengandung pertentangan,yang menerangkan secara pasti, bahwa korban Paskah berlaku sudah sejak umur 8 hari (Parah 1:4). Sekalipun penggunaan semesta dari kata domba tidak dapat dibuktikan secara pasti berdasarkan Alkitab atau Talmud, tapi paling sedikit jelas, bahwahal inilumrah sekali. Boleh diperhatikan, bahwajuga masa kini orang Samaria menuruti tradisi kuno masih mengorbankan seekor anak domba di lereng Gunung Gerizim.


* Keluaran 12:3-5
12:3 LAI TB, Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga.
KJV, Speak ye unto all the congregation of Israel, saying, In the tenth day of this month they shall take to them every man a lamb, according to the house of their fathers, a lamb for an house:
Hebrew,
דַּבְּרוּ אֶל־כָּל־עֲדַת יִשְׂרָאֵל לֵאמֹר בֶּעָשֹׂר לַחֹדֶשׁ הַזֶּה וְיִקְחוּ לָהֶם אִישׁ שֶׂה לְבֵית־אָבֹת שֶׂה לַבָּיִת׃
Translit, DABRU 'EL-KOL-ADAT YISRA'EL LEMOR BE'ASOR LAKHODESY HAZEH VEYIKKHU LAHEM ISY SEH LEVEIT-'AVOT SEH LABAYIT

12:4 LAI TB, Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang.
KJV, And if the household be too little for the lamb, let him and his neighbor next unto his house take it according to the number of the souls; every man according to his eating shall make your count for the lamb.
Hebrew,
וְאִם־יִמְעַט הַבַּיִת מִהְיֹת מִשֶּׂה וְלָקַח הוּא וּשְׁכֵנֹו הַקָּרֹב אֶל־בֵּיתֹו בְּמִכְסַת נְפָשֹׁת אִישׁ לְפִי אָכְלֹו תָּכֹסּוּ עַל־הַשֶּׂה׃
Translit, VE'IM-YIMAT HABAYIT MIHYOT MISE VELAKAKH HU 'USYEKHENO HAKAROV 'EL-BEITO BEMIKHSAT NEFASHOT ISY LEFI 'AKHLO TAKHOSU AL-HASE

12:5 LAI TB, Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing. KJV, Your lamb shall be without blemish, a male of the first year: ye shall take it out from the sheep, or from the goats:
Hebrew,
שֶׂה תָמִים זָכָר בֶּן־שָׁנָה יִהְיֶה לָכֶם מִן־הַכְּבָשִׂים וּמִן־הָעִזִּים תִּקָּחוּ׃
Translit, SE TAMIM ZAKHAR BEN-SYANAH YIHYEH LAKHEM MIN-HAKEVASIM 'UMIN-HA'IZIM TIKAKHU



4. Pada malam Paskah di Mesir, kedua tiang pintu dan ambang atas dari setiap pintu rumah orang Israel dilabur dengan darah domba. Sementara orang menduga ada hubungannya dengan sihir. Darah itu ditaruh dalam sebuah pasu, Ibrani sal (kata ini dapat juga berarti 'ambang'), dilakukan dengan memakai seikat hisop, yaitu daun dari marjoram, suatu lambang biasa untuk ketahiran (lihat juga N.H Snaith, The Jewish New Year Festival, 1947, him 21 dst).


5. Dalam Keluaran 12:6; 16:12; Imamat 23:5; Bilangan 9:3, 5, 11 terdapat ungkapan 'pada waktu senja' (lbrani ערב - EREV, harfiah 'di antara dua malam'). Ada dua tafsiran menurut praktik dalam masyarakat: diartikan antara jam 15:00 dan terbenamnya matahari, yang merupakan versi Farisi (Pesakhim 61a; Jos., BJ 6. 423), atau, antara terbenamnya matahari dan malam, versi Samaria dan masyarakat lain. Seperti diterangkan Edersheim, waktu yang lebih dini (sore) memberi kesempatan yang lebih panjang untuk menyembelih anak-anak domba yang cukup banyak, jadi merupakan tafsiran yang lebih tepat.


* Keluaran 12:6
LAI TB, Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja.
KJV, And ye shall keep it up until the fourteenth day of the same month: and the whole assembly of the congregation of Israel shall kill it in the evening.
Hebrew,
וְהָיָה לָכֶם לְמִשְׁמֶרֶת עַד אַרְבָּעָה עָשָׂר יֹום לַחֹדֶשׁ הַזֶּה וְשָׁחֲטוּ אֹתֹו כֹּל קְהַל עֲדַת־יִשְׂרָאֵל בֵּין הָעַרְבָּיִם׃
Translit, VEHAYAH LAKHEM LEMISYMERET 'AD 'ARBA'A ASAR YOM LAKHODESY HAZEH VESYAKHATU 'OTO KOL KEHAL 'ADAT-YISRA'EL BEIN HA'ARBAYIM


Bandingkan :


* Imamat 23:5
LAI TB, Dalam bulan yang pertama, pada tanggal empat belas bulan itu, pada waktu senja, ada Paskah bagi TUHAN.
KJV, In the fourteenth day of the first month at even is the LORD's passover.
Hebrew,
בַּחֹדֶשׁ הָרִאשֹׁון בְּאַרְבָּעָה עָשָׂר לַחֹדֶשׁ בֵּין הָעַרְבָּיִם פֶּסַח לַיהוָה׃
Translit interlinear, BAKHODESY {pada bulan} HARI'SYON {pertama itu} BE'ARBA'AH {pada empat} 'ASAR {sepuluh} LAKHODESY {kepada bulan} BEYN {antara} HA'ARBAYIM {senja/ petang} PESAKH {Paskah} LAYHOVAH {bagi TUHAN}


6. Keluaran 12:43-49 melarang non-Yahudi turut merayakan Paskah, tapi membuka kesempatan bagi proselit yang diharapkan akan mengikuti segala tata cara upacara. Seluruh drama dan arti rohani dari Keluaran 12 dituangkan dalam 17 kata yang penuh arti dalam Ibrani 11 :28.


* Keluaran 12:43-49
12:43 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun: "Inilah ketetapan mengenai Paskah: Tidak seorang pun dari bangsa asing boleh memakannya.
12:44 Seorang budak belian barulah boleh memakannya, setelah engkau menyunat dia.
12:45 Orang pendatang dan orang upahan tidak boleh memakannya.
12:46 Paskah itu harus dimakan dalam satu rumah juga; tidak boleh kaubawa sedikit pun dari daging itu keluar rumah; satu tulang pun tidak boleh kamu patahkan.
12:47 Segenap jemaah Israel haruslah merayakannya.
12:48 Tetapi apabila seorang asing telah menetap padamu dan mau merayakan Paskah bagi TUHAN, maka setiap laki-laki yang bersama-sama dengan dia, wajiblah disunat; barulah ia boleh mendekat untuk merayakannya; ia akan dianggap sebagai orang asli. Tetapi tidak seorang pun yang tidak bersunat boleh memakannya.
12:49 Satu hukum saja akan berlaku untuk orang asli dan untuk orang asing yang menetap di tengah-tengah kamu."


Perayaan Paskah yg digambarkan Ulangan pasal16 dalam beberapa segi yang penting berbeda dari perayaan Paskah dalam Keluaran 12. Tekanan diberikan kepada darah yang menghilang; upacara yang khas bersifat rumah tangga sudah menjadi suatu persembahan resmi pada pusat tempat.kudus, dengan adanya pilihan yang agak lebih luas tentang binatang korbannya. Ayat 7, menyebut 'memasak' bukan memanggang korban itu. Hari Raya Paskah dan Hari Raya Roti Tidak Beragi, yang di sini disebut roti penderitaan, sudah dibaurkan lebih seksama dibandingkan dalam Keluaran. Ini merupakan perkembangan, peristiwa itu diubah menjadi peringatan, bukan pertentangan; lagi pula cocok dengan bukti PB.

Jadi, tidak mutlak harus diterima bahwa ada selang waktu yang besar antara kedua pasal itu; perubahan-perubahan suasana bisa sudah diramalkan pada masa perjalanan di padang gurun. Selanjutnya ada tercatat, bahwa sebulan kemudian, Hari Raya Paskah kedua diadakan untuk kepentingan orang-orang yg secara peraturan imamat tidak tahir pada Paskah pertama (Bilangan 9: 1-14).

Paskah dirayakan di dataran Yerikho waktu Israel mulai menaklukkan tanah Kanaan (Yosua 5:10 dab). Pada masa pemerintahanraja Hizkia (2 Tawarikh 30:1-27) dan Yosia (2 Tawarikh 35: 1-19), tempat perayaan Paskah yg dianggap tetap adalah Bait Suci di Yerusalem. Perayaan raja Hizkia memanfaatkan perayaan Paskah kedua yang sah, yang disebut di atas, sebab umat Israel tidak berkumpul di Yerusalem, dan para imam tidak dalam ketahiran imamat, seperti pada hari yg terdahulu itu. Uraian pendek dari nabi Yehezkiel (45:21-24) membicarakan perayaan Paskah di Bait Suci idaman menurut gambarannya. Ketiga pokok yg menarik perhatian ialah, peran serta pemimpin negara secara penuh, adanya korban penghapus dosa, dan perubahan yang menyeluruh dari perayaan keluarga menjadi perayaan umat Israel. Binatang-binatang sembelihan yg disebut-sebut ialah lembu, kambing dan anak kambing. Peraturan-peraturan Kitab Ulangan agak lumayan diperluas, walau tidak ditempatkan dalam pola pikiran yang baru.

Kebiasaan orang Yahudi pada masa terakhir penggunaan Bait Suci yg dibangun oleh raja Herodes, digambarkan dalam traktat Misyna Pesakhim. Khalayak umum berkumpul di pelataran luar Bait Suci itu, berkelompok-kelompok untuk menyembelih domba-domba Paskah. Imam-imam berdiri baris dua; dalam satu baris setiap imam memegang sebuah pasu emas, dalam baris yg satu lagi setiap imam memegang sebuah pasu perak. Pasu yang menampung darah dari domba sembelihan yg bakal mati itu diserahkan dari tangan ke tangan demikian terus sampai ke ujung baris, dan di situ darah tersebut dibuang oleh imam terakhir dengan acara tertentu di atas mezbah. Semua ini dilakukan dengan menyanyikan Hallel, atau Mazmur 113-118. Kelompok tadi biasanya bersifat keluarga, tapi dapat juga ikatan lain, seperti ikatan yang mempersatukan Tuhan Yesus dan muridNya.

sumber : http://www.sarapanpagi.org/hari-raya-paskah-pesakh-vt1920.html

Categories: ,

Copyright © Johannes Dwi Cahyo | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑