Showing posts with label touring. Show all posts
Showing posts with label touring. Show all posts

Thursday, July 21, 2011

Politik Angkot (Taman Bunga atau Telaga Warna?)

Sabtu merupakan hari jalan-jalan. Dan minggu ini ajakan datang dari kakak saya. Dia mau ada pembubaran panitia Paskah kemarin di Taman Bunga Cibodas. Saya lalu diajak karena cukup kenal mereka dan biar ada cowoknya. Langsung mau begitu diajak, lumayan buat cari-cari pengalaman dan spot foto. Saya lalu juga ajak teman saya satu lagi, Yuri dan diijinkan oleh kakak saya. Yuri awalnya agak susah dapat ijin dari mamanya tapi akhirnya bisa juga, lengkap sudah ijinnya dari cowoknya dan mamanya. Rencana kakak saya dan teman-temannya akan berangkat sabtu pagi jam 6 dari pangkalan Damri dekat Botani. Karena yuri akan datang dari Jakarta jadi rencananya saya akan nyusul agak siangan bersama Yuri. Rencana yang bagus bukan?
Saya berangkat ke Bogor dari Jakarta naik shuttle NF, minggu ini bisa dapet ternyata. Dan sampai di kantor sekitar jam 18.30. Saya sempatkan maem di burjo dekat kantor dulu karena saya tahu kakak saya masih di Jakarta, hari itu dia presentasi Direksi. Di burjo saya malah menerima sms dari Dito ngajak untuk menjenguk salah seorang teman kami Mas Muji yang sedang sakit dan dirawat di BMC. Karena toh kakak saya beum pulang saya ikut saja njenguk, jam 8 kami berangkat ke BMC, saya, Dito, K Mel dan Cing2. K Rina yang masih di kantor lalu nyusul langsung ke BMC, kemudian datang juga Mas Aldy dan Rhea. Kita bukannnya menghibur dan menenangkan orang sakit tapi justru becandaan dan bikin rebut, untung kali itu ga diusir saya (banyak sekali pengalaman diusir). Padahal tulisan jam besuk cuma sampai jam19.30 tapi akhirnya kita pulang jam 21.30.
Saya langsung lanjut menuju Parung, kost mbak saya. Dan naik Pusaka tercinta akhirnya sampai sekitar jam 22.40 dan kakak saya masih belum pulang juga. Saya masuk dengan pintu bapak kost. Dan menunggu akhirnya Kakak saya pulang jam 24.00. Dan membawa kabar buruk, teman-temannya membatalkan rencana ke Taman Bunga besok, padahal Yuri sudah pamitan tidur tadi. Akhirnya diputuskan kita tetap main saja bertiga paling ngga.Saya sih OK2 saja. Tetap berangkat.
Besok paginya saya bangun karena sms dari Yuri, dia bilang sudah di KRL Bogor. Padahal saya baru bangun, langsung mandi dan membangunkan kakak saya. Kakak saya agak susah bangun karena memang kecapekan sih. Akhirnya bisa bangun juga dan kami naik angkot ke stasiun Bogor sementara Yuri sudah sampai duluan, mana jaraknya jauh juga dari Parung ke stasiun Bogor. Untung Yuri sangat sabar menunggu dan di perjalanan sudah kami kabarkan kalau teman-teman kakak saya batal ikut, jadi kita langsung cari-cari orang biar lebih rame acara jalan-jalannya. Dari sekian banyak yang kami hubungi akhirnya cuma satu yang bisa ikut, Limas cowoknya Yuri. Jadilah kita berempat jalan-jalan.
Rute pertama adalah naik angkot 02 sampai ke sukasari, sebelumnya kami beli sarapan di Indomaret Point. Saya dan kakak saya beli mie goreng Nissin instan yang ternyata ribet masaknya karena harus dibuang-buang airnya, Limas beli Spaghetti dan Yuri ikut beli Burger juga. Angkot 02 dengan lancar sampai ke Sukasari, kami agak khawatir sebenarnya karena kabarnya system buka tutup jalan diPuncak untuk kea rah atas cuma sampai jam 11. Tapi ternyata masih bisa. Naik dah angkot kesana. Karena sebenarnya kita berempat belum pernah ada yang kesana (Yuri pernah waktu SD, jadi ga ingat jalan sama sekali), kita cuma berbekal petunjuk dari teman kakak saya. Karena itulah dimulai sesi tanya-tanya ke Pak Sopir, setelah tanya ternyata memang angkot Cisarua yang kami naiki akan sampai ke tempat bernama Tugu, dimana disitu menurut petunjuk kita masih harus ganti angkot sekali lagi untuk masuk ke taman bunga nya.
Akhirnya sampai ke Tugu yang ternyata jauh dari bayangan saya, ga ada tugunya, karena ternyata Tugu itu nama desa/daerahnya. Kami tanya-tanya lagi disitu dan katanya memang naik angkot kuning untuk menuju Cibodas. Setelah menunggu sekian lama tanya lagi ke orang dan memang katanya angkot kuning jarang dan kami disarankan naik angkot lagi dulu ke arah puncak sampai perhentian angkot kuning Cibodas itu. Dengan berat hati kami akhirnya naik angkot dan kena tariff yang lumayan mahal 25.000 untuk berempat. Karena tidak ada pilihan lain terpaksa kami terima, dan sialnya waktu dijalan naik kami melihat angkot kuning yang turun ke Tugu, dan lebih parah lagi sopir angkot kami menurunkan kami dekat Masjid Atta’un (kayaknya gini ya tulisannya, saya lupa) karena melihat ada angkot kuning, padahal jaraknya masih sangat tidak pantas untuk harga 25rb. Akhirnya naiklah kami ke angkot kuning dan bilang ke Bapaknya kalau kami mau ke taman bunga, dari sini lah terbuka fakta yang aneh. Untuk ke taman bunga kami masih harus naik 3 angkot lagi dan kalau mau ke kebun raya Cibodas kami masih harus naik 2 angkot lagi. Langsung lemes dan males mendengar penjelasan si Bapak tapi kita tetap naik, dan belum lama kita melihat suatu obyek wisata yang catchy, namanya Telaga Warna, mulai berpindah hati dan akhirnya kami pindah tujuan ke Telaga Warna itu saja. Cukup sudah dengan politik angkot itu, kami mau jalan-jalan.












Telaga warna cukup OK sekilas, tiket masuk cuma 2rb dan pemandangan sekitarnya kebun teh, warna langitnya sangat-sangat bagus, dan tentu saja telaganya sangat OK. Disitu juga sedang digunakan untuk tempat foto Pre-Wedding dengan perahu di tengah danau. Langsung masuk ke sesi foto-foto di sekitaran, banyak peralatan outbond, ada flying fox juga, dan ada monyet liar. Monyetnya tapi sudah cukup ramah meskipun si Limas sempat merasakan ancaman gigitan dari si Monyet (benar-benar me”rasa”kan ). Setelah melihat sesaat kami mulai tertarik dengan Flying Fox. Saya tanya-tanya ke bapaknya dan kaget begitu mendengar harganya. 15.000 saja, murah banget pak, padahal lumayan juga flyingfoxnya, si Bapak juga menawari kalau mau naik perahu harganya 10rb. Setelah dipikir-pikir akan lebih menarik perahu, kami jadi menyewa perahu dengan tariff 30rb sepuasnya. Dan memang sangat menyenangkan di perahu, dan lagi bisa sepuasnya. Terbayar sudah kerumitan angkot-angkot tadi.
Kami pulang sekitar jam 3 dari Telaga Warna dan menuju ke Cimory. Sudah tidak sabar untuk makan di Cimory. Perjalanan pulang sekarang sudah lebih mudah, kami langsung memilih angkot Cisarua jadi tidak perlu ganti angkot sampai Cimory. Sempat terhenti karena buka tutup jalan seperti biasa, kami lanjut jalan dengan cukup lancar. Yang menarik di jalan kami semakin yakin dengan fakta banyaknya orang Arab di Puncak (maaf rasis, tapi begitulah kenyataannya), sampai beberapa took memakai dua bahasa Indonesia/Inggris dan Arab. Setelah pulang baru tahu dari Mamanya Yuri kalau orang-orang Arab itu kawin kontrak dan ini sedang musimnya.
Sampailah kami di Cimory, untung langsung dapet tempat duduk dan bisa pesan. Uniknya kami semua pesan hidangan sosis, masing-masing beda jenis saja. Sehabis pesan saya ke took depan dan beli satu botol susu segar rasa coklat dan satu yoghurt mixfruit. Hidangan tidak terlalu lama datangnya. Langsung disantap, saya pribadi memang suka sosis di Cimory, sebelumnya baru sekali coba dan menurut saya enak. Setelah kekenyangan makan kami lanjut foto-foto karena di bawah ada tempat bermain penuh sapi-sapian yang lucu.
Kami pulang dengan angkot Cisarua lagi dan sampai di Elos, kembali lanjut naik 02 karena Yuri akan langsung pulang dengan KRL. Di jalan macet dan hampir saja Yuri ketinggalan kereta, saya dan kakak saya lanjut ke Parung dan Limas pulang ke daerah IPB.
Main-main yang menyenangkan, ribet naik angkot tapi justru ketemu obyek yang tidak disangka-sangka dan ditutup dengan makan puas di Cimory. Terimaksih Tuhan untuk jalan-jalan kali ini.

Categories: , , ,

Monday, June 27, 2011

Cari Kost (lagi)

Setelah cerita sebelumnya mengenai cukup ribetnya saya dalam memilih kost saat akan bekerja di Bogor, ternyata 4 bulan setelahnya saya akan pindah kantor ke Jakarta. Tepatnya di Kawasan Industri Pulogadung, di Jalan Rawabali. Karena itu, saya pastinya akan mencari kost lagi dan sekarang di daerah Rawamangun sepertinya.

Tentu saja sebelum langsung jalan-jalan untuk mencari kost, saya survei dulu, bertanya ke beberapa teman yang dari Jakarta ataupun bekerja di Jakarta terutama yang di Pulogadung. Dari beberapa percakapan saya rasa yang paling sesuai buat saya adalah kost di daerah Rawamangun, tidak terlalu jauh, daerahnya cukup aman dan rentang harganya masih lumayan.
Saya lanjutkan survei saya dengan bertanya ke teman-teman yang mungkin tahu daerah Rawamangun. Dapet beberapa info dan usulan, tapi yang terutama adalah dapet temen buat nemenin nyari karena saya buta sama sekali daerah di Jakarta. Akhirnya saya dapet 3 teman untuk menemani, Yuri, Gaby dan Mas Anjar.
Dan akhirnya tibalah hari-H saat saya akan mencari kost-an. Begini rencananya, saya akan ketemuan sama Yuri (rumah di Tebet) di Kampung Melayu, saya naik KRL dari Bogor, berhenti di stasiun Tebet, naek angkot sekali ke terminal Kampung Melayu. Setelah itu naik lagi angkot dari Kampung Melayu tujuan Pulogadung yang akan lewat daerah Rawamangun dan kita janjian dengan Gaby dan Mas Anjar di Arion Mall supaya gampang.
Dan dimulailah perjalanan saya dari kost-an di Bogor. Naek angkot 03 ke stasiun. Lanjut liat-liat jadwal KRL dan dapet paling deket Ekonomi AC. Langsung naik dan ga lama kemudian berangkat. Sebenernya dapet tempat duduk tuh di KRL, tapi karena saya ga inget stasiun Tebet thu kayak apa dan setelah stasiun apa dan dari tempat duduk saya ga bisa liat penunjuk Nama Stasiun, akhirnya setelah beberapa waktu saya mengalah untuk berdiri dan dapat dengan leluasa melihat sekitar dan mengamati dah sampai di stasiun mana. Setelah berdiri cukup lama, akhirnya sampai juga di Stasiun Tebet, dan disinilah kesalahan saya terjadi. Dari pesan teman saya, saya diminta naik angkot 44 arah kampung melayu dari Seberang Rel. Saat itu di "seberang rel" saya lihat ada angkot no44 dan saya lihat sekitar cuma ada angkot arah itu, dengan PD tingkat tinggi saya naik tanpa tanya2. Dan jadilah ternyata saya salah arah, angkotnya justru yang ke arah lain, bukan Kampung Melayu, saya sadar setelah dicari-cari Yuri, dibilang kok lama dan ternyata saat saya bilang sekarang macet di daerah Casablanca (sok tahu dari papan2 di jalan), saya sadar juga akhirnya. Setelah melihat situasi sesaat, saya akhirnya turun dari angkot dan menyebrang jalan, naek angkot 44 lagi yang sekarang dipastikan ke arah Kampung Melayu. Yang kurang OK lagi adalah, daerah yang saya lewati tadi macet parah, dan karena saya harus lewat situ lagi, jadilah saya membuang-buang waktu dengan kena macet 2 kali di tempat yang sama.
Singkatnya (padahal lama banget di angkot dan panas lagi) saya sampe di Kampung Melayu dan menuju halte Busway tempat janjian dengan teman saya. Dan inilah pertama kali saya lihat Kampung Melayu (terminalnya). Asli Kaget karena tampak seperti pengkolan tempat mangkal saja, ga jelas bentuknya sebagai terminal, padahal namanya kan cukup terkenal.
Saya akhirnya bertemu Yuri yang sudah menunggu sekian lama, tapi dengan kesabaran luar biasa tetap bisa menyambut saya dengan senyum dan terutama ketawa. Kita lanjut naik angkot menuju Arion Mall, kali ini lancar tanpa halangan dan sampailah kita di tempat tujuan. Sampai di Arion kita cukup mudah ketemu Gaby dan Mas Anjar yang sudah sampai disana. Gaby mengusulkan perubahan rencana, jadi yang perlu muter2 nyari kost saya dan Yuri saja, naik motor mas Anjar, dan mereka akan menunggu di Arion (baek banget ya mereka, jauh2 dari Bintara padahal). Sambil Gaby juga memberikan sedikit perkiraan spot2 kost2an yang dia tahu di daerah Rawamangun.
Dan dimulailah petualangan muter2 daerah Rawamangun dengan motor. Yuri juga sebenarnya tidak terlalu tahu daerah situ, tapi lumayanlah daripada saya. Spot pertama kita dari usul Yuri adalah di daerah Puloasem, lumayan gampang ketemu tempatnya tapi agak susah cari rumah yang menyediakan kost, karena kebanyakan tidak memerikan tanda "Terima Kost". Akhirnya setelah tanya-tanya ke orang sekitar dan hansip, kami ketemu beberapa rumah kost, tapi belum OK juga, karena ternyata banyaknya untuk karyawat-"I". Waktu ketemu untuk cowok, ternyata sedang penuh, untungnya penjaga kostnya cukup baik dan mengarahkan pada ibu-ibu yang lain yang ternyata juga punya kost dan ada kamar kosong meskipun masih harus menunggu orangnya pindah terlebih dahulu.
Kost milik ibu itu lumayan sebenarnya, di Puloasem 6 nmr26. Luasnya cukup, rumahnya bersih, dapet balkon dan sudah cuci gosok dengan harga 600rb perbulan. Yang kurang dari kost itu adalah kamar mandinya, kurang OK, dan beberapa bagian rumahnya seperti tidak terawat, setelah meminta kontak si ibu, saya lanju lagi cari-cari daerah situ, dan belum dapet juga.
Kita akhirnya memutuskan untuk pindah daerah. Sekarang kami mencari di daerah dekat Gereja HKBP, disitu kostnya masuk-masuk ke gang kecil dan lumayan banyak yang kosong ternyata, tapi posisi kamarnya aneh-aneh, suasana lingkungannya terlihat sumpek agak kumuh. Daerah ini kurang saya sukai. Jadi kami lanjut lagi, seharusnya jadi daerah terakhir yang ada di list kami, di jalan Pemuda, Wisma Pertamina. Dan setelah muter2 ternyata kami tidak ketemu jalan kesana, jadi diputuskan untuk pulang saja ke Arion karena ternyata juga sudah cukup sore dan saya masih harus naik KRL ke Bogor.
Selama jalan naek motor, saya dengan cepat "menyesuaikan diri" dengan pengendara motor lain di Jakarta, saat lampu merah di depan lampu, siap-siap tancap secepatnya, belok kemana-kemana dan agak seenaknya, terutama karena saya belum tahu saya sempat melanggar lampu merah 2 kali (!-_-). Sempat beberapa kali membahayakan Yuri dan motor mulus mas Anjar (motornya masih gress, baru beli), tapi bersyukur masih dianugerahi keselamatan hari itu.
Setelah itu saya makan dulu di KFC dengan Yuri dan ternyata baru tahu paket SuperDouble kesayangan sudah habis masa promonya, padahal itu paket paling memuaskan. Jadilah saya dengan paket andalan Oriental Bento, Deluxe Burger dan Mocca Float. Ngobrol2 sambil menunggu waktu untuk ngepasin jadwal kereta.
Kita naik angkot yang tadi lagi, arah Kampung Melayu dan dari situ sekarang naek bajaj, biar sekalian Yuri bisa sampai rumah dan saya turun langsung di stasiun. Untung dapet kereta yang pas dan pulang Bogor dengan aman. Capek dan belum dapet kost yang saya mau. Rencana sih akan ke Jakarta lagi buat nyari.
Tapi akhirnya saya malas dan memutuskan untuk nge-tag kost Puloasem 26 yang paling mending itu. Untung ibu nya kooperatif dan saya bisa pesan tanpa uang muka dulu cukup lansung datang saat akan pindahan.
Di hari terakhir sebelum pindahan saya telpon untuk memastikan dan ternyata orang yang harusnya pindah dari kamar yang akan saya tempati tidak mau pindah dan saya ditawari kamar lain yang lebih besar dan belum saya lihat kemarin. Karena sudah mepet terpaksa saya terima, mau gimana lagi, daripada ga dapet kost, soalnya memang sudah waktu pindah saya.
Saat pindahan saya dijemput di Pulogadung oleh Gaby, Mas Anjar dan Tia. Setelah sesaat lupa jalan kekost, untung bisa ketemu dan masuk kost saya kaget, terpana, kagum, heran, takjub saat melihat kamar yang dibilang si Ibu "agak" besar itu. Kamarnya sendiri ukuran 4x4 dan kamar mandi dalamnya sekitar 1,5x4 juga. Kamrnya sangat luas dan lumayan sudah ada meja, kursi, dua lemari dan tempat tidur.
Setelah ditempati kostnya lumayan kok, kamar mandi dalamnya cukup bersih dan OK juga ternyata untuk jarak ke kantor cuma 10 menit jalan sangat santai dengan motor, irit dan nyaman dah.
Sementara ini cukup puas lah dengan kost ini, orangnya juga tidak terlalu banyak (3 orang) jadi kemungkinan tidak ada masalah cucian tertukar dan kesunyian terjamin.
Lagi-lagi thanks God untuk berkatmu ini.

Categories: , , , , , , , ,

Pangandaran -- PLF Department Gathering

Sekedar catetan perjalanan saja tentang Gathering Departemen tempat saya kerja di PLF, PT Nutrifood Indonesia. Gathering ini harusnya diikuti oleh 110 orang karyawan gudang termasuk saya, tapi yang berangkat hanya sekitar 80-an orang. Tujuan kita pasti yaitu wilayah Pantai Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia.
Gathering memang merupakan acara tahunan di perusahaan kami dan dilakukan biasanya per-departemen. Tahun ini kami memilih destinasi Pangandaran, mungkin karena anak-anak bosan dengan suasana puncak atau pantai yang dekat-dekat. Untuk membuat rencana gathering ini tidak mudah sama sekali. Dengan luar biasanya setelah terbentuk panitia dan penentuan tempat tujuan, ada tim yang mensurvei langsung ke Pangandaran. Luar biasa, dari situ langsung ditentukan mau memakai wisma/hotel mana dan penentuan jadwal kegitan mau apa saja selama di Pangandaran nantinya. Juga proses perijinan tidak mudah dan dibutuhkan usaha keras dari setiap pihak untuk departemen kami bisa pergi pada akhirnya. Ini dikarenakan departemen kami (PLF – Plant Logistic Finished Goods) yang mengurusi semua persiapan pengriman produk perusahaan kami, jadi kalau kami ibur tentu saja setiap kegiatan order juga akan berhenti. Ini harus diinfokan jauh hari sebelum rencana keberangkatan yang direncanakan cuma 2 minggu sebelumnya.
Mari kita mulai dari keberangkatan, untuk menyesuaikan dengan order terakhir kita rencana berangkat dari Ciawi – Bogor jam 1 dinihari. Saya, Mba Hesti dan Ci Karen rencana berangkat bersama dari kost-an kami yang berdekatan di Jalan Riau – Bogor. Rencana kita bertemu sekitar jam 12 dan kemudian naik angkot 01 seperti biasa (angkot di Bogor beroperasi 24jam). Disini saya sudah mengalami kejadian unik pertama (mari kita sebut “unik” saja ya). Saya menunggu jam 12 dengan main ke tempat kost teman saya Dito, masih di jalan Riau, sekalian membahas suatu rencana yang kita punya. Tidak sadar ternyata tiba-tiba sudah jam 23.30, saya segera pamit untuk pulang karena masih harus mengambil tas dulu di kost. Saat sampai depan kost Dito ternyata pintu gerbangnya sudah ditutup, dan ibu kost yang memegang kunci gerbangnya sudah tidur. Ditambah lagi BBM saya bunyi terus karena ternyata Mba Hesti dan Ci Karen sudah ditelpon teman-teman gudang yang bilang mereka sudah siap berangkat dan hanya menunggu kita saja. Tidak ada jalan lain, supaya cepat saya harus loncat pager sepertinya. Dan akhirnya saya memang loncat pager kost Dito yang lumayan tinggi, untung orang-orang yang ronda sudah cukup akrab dengan muka saya yang memang anak kost daerah situ, kalo ngga gerak-gerik saya memang "sangat mirip" maling.
Lanjut dah, dengan luar biasanya saya bisa ketemu mba Hesti dan ci Karen. Kita langsung ke tempat nunggu angkot, dan telpon terus datang bertubi-tubi, tapi dengan luar biasanya juga angkot 01 belum ada yang lewat, mungkin sekitar 10-15 menit kita menunggu, sampai akhirnya ada juga angkotnya. Langsung lari-larian saat sampai kantor dan disambut dengan penuh keceriaan oleh teman-teman yang semuanya sudah duduk manis di dalam bus. Saya, Mba Hesti dan Ci Karen mendapat tempat duduk persis di belakang supir, tempat favorit saya karena saya memiliki naluri kernet yang cukup tinggi (susah tidur di perjalanan, senang lihat-lihat jalan dan sekitarnya).
Rombongan kami terdiri dari dua bus. Lumayan lah kondisinya, bukan bus yang mulus-mulus kelas super executive nya OBL sih, tapi cukupan lah, sudah ber-AC juga kok. Sopir saya (*mohon maaf) sudah agak tua, dan ini juga yang menyebabkan saya jadi waspada. Saya niat awalnya mau tidur di perjalanan, karena seharian ada kegiatan terus dan belum istirahat. Tapi melihat gelagat aneh dari sopirnya, saya memutuskan untuk mengawasi dulu sesaat.
Kejadian unik selanjutnya yang kemudian bahkan membuat saya memilih untuk terjaga lebih lama adalah saat saya melihat Pak Sopir gagal meraih tuas perseneling. Memang sih kondisi gelap karena semua lampu dimatikan. Tapi menurut saya sudah seharusnya sopir menguasai penuh kendaraannya. Dan dari gelagat itu pun saya putuskan untuk mengawasi lebih lanjut sepak terjang Pak Sopir (*akhirnya dapet info nama beliau Pak Hambali).
Dan akhirnya kejadian unik yang membuat saya memutuskan untuk terjaga sebisa saya adalah saat masih di tol Bogor, bus yang kami tumpangi sempat hamper menabrak mobil, memang sih itu lebih karena kesalahan si mobil, tapi melihat cara penanganan dari Pak Sopir yang hampir-hampir tidak bisa mengerem dan mengendalikan laju bus, saya jadi semakin khawatir. Banyak-banyak berdoa deh habis itu.
Selanjutnya menyusul kejadian-kejadian lain yang membuat kami semua (penumpang bus, sekitar 40 orang) jadi sport jantung setiap saat. Mulai dari berhenti mendadak, seperti tidak tahu jalan, hampir menabrak pembatas jalan, seperti kurang awas terhadap obyek disamping-samping dan banyak lagi. Kejadian unik yang paling akan diingat mungkin ada dua lagi. Yang satu saat kami sudah di jalan menuju Bandung, ada suatu jalan yang di tengahnya diberi pembatas jalan, dari plastic tebal, sepertinya di beton di bagian bawah dan berwarna orange menyala, tiba-tiba truck di depan kami menyerempet pembatas itu dan membuatnya terlempar ke sisi lain jalan, dan disisi lain jalan umpan tersebut disambut dengan ceria oleh bus yang berjalan di arah yang berlawanan dengan kecepatan cukup tinggi sehingga menyebabkan pembatas itu terlempar kea rah bus kami. Ini murni bukan kesalahan supir kami, dan justru ini momen yang agak kasihan buat mereka. Pembatas itu terlempar dengan semangat kea rah bus kami, dan saya yang duduk di belakang sopir, dengan pandangan sempurna yang tidak terhalang apapun, melihat dengan jelas proses situ seperti di gerakan lambat, biarpun sering melihat dan bahkan melakukannya di game-game balap, tapi di kejadian nyata ini sangat seram, untunglah pembatas itu tidak terpental ke atas, jadi hanya mengenai lampu kanan bus kami, tidak terbayang bila lebih ke atas lagi pastinya akan mengenai kaca bus dan memecahkannya dengan mudah.
Kejadian unik yang selanjutnya, menurut saya paling istimewa dari balada perjalanan ini. Masih di jalan daerah Bandung itu, sepertinya sudah ke agak arah Garut, di daerah jalan yang tengah-tengahnya banyak putaran jalan (yang di blok semen dan diisi dengan rerumputan itu lho..). Seperti yang saya bilang sebelumnya Pak Sopir kami seperti sudah kurang awas dengan obyek di samping-sampingnya, dan itu menjadi nyata dengan kejadian ini. Jadi, di suatu jalan yang ada putarannya itu, sopir kami menabrak putaran jalan itu, yang cukup tinggi, dengan kecepatan yang lumayan, dan itu membuat bus kami sempat melayang sebelum terhempas kembali ke aspal dengan keras, untungnya masih dalam keadaan tegak berdiri di posisi yang benar. Saat kejadian itu, lagi-lagi saya dalam posisi bebas tidak terhalang apapun, dan melihat semuanya dengan jelas dan seperti gerak lambat. Saya agak bingung mau menggambarkan, tapi pokoknya dalam momen itu terekam jelas selama beberapa detik kejadian, saya ingat detil lokasi saat itu bentuknya seperti apa dan bagaimana urutannya. Kejadian ini membuat seisi bus langsung terdiam, keliatannya pada memilih untuk banyak-banyak berdoa setelah itu.
Kejadian unik lain yang juga bisa dijadikan pelajaran untuk teman-teman yang merencanakan wisata, hati-hati memilih hari wisata. Seperti yang kami lakukan, antisipasi sudah dilakukan, tapi tetap belum cukup. Rombongan kami terkena macet parah, selain karena lalu lintas yang ramai juga karena selama di jalan sempat terjadi beberapa kecelakaan yang memperparah kondisi jalan. Ada yang container terbalik, bus terbakar dan sisa tabrakan bus yang belum bisa disingkirkan dari jalan. Direncanakan kami akan sampai Ciamis sekitar pukul 5-6 pagi dan mengambil makanan di tempat salah seorang kerabat karyawan gudang. Percayakah anda jam 7-8 pagi kami masih terjebak macet di Malangbong? Bahkan kami semua sempat berhenti sama sekali lumayan lama, semua teman di bus keluar untuk kencing, jalan-jalan. Dan ini yang saya pandang luar biasa dari teman-teman di PLF. Tidak ada keluhan dari mereka, semuanya ceria, semangat, tetap ketawa-ketawa berusaha mengisi waktu dengan becanda, ngobrol, nyanyi-nyanyi, foto-foto dan main kartu. Tidak ada keluhan dari mereka padahal belum sarapan, semuanya saling ceria dan menikmati perjalanan. Menurut saya itu sangat luar biasa. Buat mereka ya "ini sudah gathering dan mereka menikmati itu". Sampai terharu saya.
Akhirnya kami sampai juga di Ciamis, dan bisa makan pagi di siang hari sekitar jam 1 siang. Dan teman-teman tetap ceria. Sempat ada yang nyeletuk lucu saat melewati suatu plang jalan di ciamis yang bertuliskan Ciawi. Kami yang berangkat dari Ciawi – Bogor jadi seperti tidak merasa pergi kemana-kemana karena melihat plang Ciawi lagi, tapi ini Ciawi yang di Ciamis kok. Setelah makan dan istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan lagi. Perjalanan berlangsung normal dan begitu saja, mungkin dah terbiasa dengan gaya menyetir si Pak Sopir akhirnya. Dan kami sampai di Pantai Pangandaran pada pukul 5 sore (akhirnya…!!!).
Begitu sampai kita istirahat sebentar dan tentu saja karena nafsu yang sudah menggebu untuk jalan-jalan di pantai langsung memutuskan untuk jalan-jalan terlebih dahulu sebelum makan karena ternyata makanan kami sudah disiapkan di meja prasmanan. Saya jalan berempat bersama Ci Karen, Mba Hesti dan Yuli. Tentu saja saya bawa si 350D kesayangan sambil cari-cari obyek. Baru jalan sebentar tiba-tiba Ci Karen ditelepon panitia yang bilang bahwa anak-anak baru mau mulai makan kalau dibuka oleh Cici. Jadilah kami kembali ke wisma dan makan malam dengan ceria, meskipun buat beberapa orang kurang ceria sih karena kehabisan makanan, ternyata makanan yang disiapkan tidak cukup untuk nafsu makan kami. Jadilah mereka harus menunggu sampai tambahan makanan datang.
Akhirnya baru benar-benar waktu bebas kita hampir semuanya memutuskan jalan-jalan dan saya akhirnya memilih main sepeda dengan biaya sewa 15.000 per jam untuk sepeda tandem berdua. Saya naik bersama Ferry dan Alan di sepeda tunggal biasa. Langsung menyusuri pantai, padahal waktu itu sudah mulai gerimis. Jadi posisi saya membawa payung sambil bersepeda. Karena tandem saya memilih duduk di belakang jadi cukup mengayuh saja tidak perlu ikut mengarahkan. Saya sambil membawa kamera di neckstrap dan memayunginya. Dan benar saja akhirnya jadi hujan deras setelah beberapa saat dan kita sudah terlalu jauh dari Losmen. Akhirnya memilih berteduh di tempat penjual bubur ayam. Ferry beli kopi, Alan pengen makan lagi jadi beli bubur ayam. Dan setelah menunggu cukup lama akhirnya saya juga memesan mie ayam di penjual sebelah. Setelah menunggu lagi kami putuskan untuk pulang ke wisma. Saya membungkus kamera saya dengan plastic agar tidak basah. Seru sepedaannya biarpun hujan, kehujanan, basah-basahan, tapi menyenangkan.
Kegiatan setelah pulang ke losmen adalah waktu bebas, kebanyakan menggunakan untuk main kartu dan ngobrol. Saya memilih untuk cari-cari obyek foto saja disekitar losmen. Begitu agak malem mulailah rencana acara bakar-bakaran. Ternyata responnya kurang OK, hanya sedikit yang berminat untuk bakar-bakaran. Saya sih semangat, ikut bakar-bakaran pasti dan karena yang ikut sedikit tentu saja jadinya dapat bagian yang sangat banyak. Jadilah hari itu makan sangat banyak yang ditutup dengan BBQ ikan dan udang di dini hari. Akhirnya saya tidur di dekitar jam 2 di kamar yang nyaman dan berAC.
Selama di kegiatan ini saya banyak mengajari fotografi dasar memakai DSLR. Murid utama saya yaitu bos saya, Ci Karen yang sangat antusias dan berhasil saya komporin untuk membeli kamera. Yang lain banyak juga tapi kebanyakan hanya sekilas-sekilas saja. Biasa lah ngajarin dari segitiga ekposure dulu. Mainin shutter speed, aperture dan ISO. Juga ngajarin konsep-konsepnya. Senang saya bisa berbagi ilmu sederhana dan terutama bisa ngomporin. Dan overall foto-foto latihan mereka cukup baik.





Kegiatan hari itu seperti yang direncanakan adalah pergi ke cagar alam. Ini sangat menyenangkan. Kita akhirnya menggunakan rute naek perahu dulu. Karena memang jatuhnya lebih murah (sebenarnya ini cara agak curang). Lumayan naek perahu sebentar, dan lihat pemandangan dari laut. Setelah itu sampai di cagar alam dan disambut oleh pemandu bernama Pak Tarno (prok3..dibantu yaa…). Cukup asik karena anak-anak rame dan lucu-lucu. Obyeknya sama kayak jaman saya SMP terakhir ke Pangandaran keliling gua-gua alam dan buatan yang ada disana. Untuk selanjutnya lets photo do the talking….
Siangnya kita langsung siap-siap untuk balik ke Bogor, benar-benar sebentar banget. Bahkan saya ga sempat beli oleh-oleh apapun. Tapi it’s OK lah ga masalah toh saya juga bakal susah mbawain oleh-oleh buat siapa juga. Kita pulang dengan formasi yang sama artinya saya dapet bis dengan sopir yang sama seperti waktu berangkat. Disinilah sebenarnya Pak Sopir yang keliatannya cemberut terus dan pemarah ini justru sempat saya liat percobaan ngelawaknya. Saat absen anak-anak untuk tahu siapa yang sudah naik dan belum, beliau sempat nyeletuk, “Yang belum ada ngacung…” Maksudnya becanda, dan dia ketawa-ketawa sendiri habis itu, saying sekali orang satu bis ga ada yang dengar. Karena saya duduknya depan sendiri jadi denger dan ikut tersenyum mendengar lawakan si Bapak. Kita pulang tetap dengan ketegangan seperti saat berangkat dan waktu tempuh yang juga sangat lama. Akhirnya sampai kost sekitar jam  5 pagi juga dan itupun turun di pertigaan tol Ciawi karena Bis pecah ban disana. Untung sudah sampai disitu.
Banyak pelajaran yang bisa ditarik seperti kalau mau wisata ya pakailah bus pariwisata agar nyaman, pilih waktu yang tepat jangan saat musim libur panjang dan yang paling utama adalah lihat tujuannya, nikmati setiap prosesnya, seharusnya setiap peserta layak untuk bersungut-sungut, tapi saya lihat sama sekali tidak ada yang begitu, semuanya ceria dan saling mengisi dan terlihat puas. Benar-benar 2 hari yang SuperFun.

Categories: , , , , ,

Monday, May 16, 2011

Pengemis -- Bagaimana saya harus bersikap?

Saya pernah benar2 trenyuh, sewaktu lewat di lorong penghubung halte busway Kota ke Stasiun Kota, ada pengemis, anak kecil, cowok, paling umur baru 5-6 tahun dan dia menggendong seorang bayi, masih sangat
kecil, mungkin belum ada sebulan usianya, dan bayi itu menangis terus, semua orang yang lewat juga merasa iba dan mencoba bertanya, "Dimana ibunya dek?" tapi si anak cowo itu tidak menjawab, tetap dengan posisi
mengemis sambil menepuk2 si bayi, berusaha mendiamkan dari tangisannya. Saya akhirnya cuma lewat, tidak berbuat apa-apa, cuma dengan sedih memandang dan berpikir keras, bagaimana bisa membantu anak-anak seperti mereka.
Saya termasuk orang yang jarang memberi pada pengemis ataupun pengamen. Apalagi kepada pengamen asal-asalan dan pengemis yang tampak sehat-sehat saja tidak kurang suatu apapun, tapi terutama say paling tidak memberi pada pengemis yang membawa anak kecil(balita) atau bayi.
Pelit? mungkin karena itu. Hehe. Tapi saya punya prinsip bahwa memberi pada mereka tidak akan membantu apapun bagi mereka. Kalau kasihan pada pengemis dan anak jalanan yang masih kecil-kecil, uang yang kita berikan pasti nanti akhirnya dikumpulkan pada "boss" mereka dan mereka juga ga dapet perbaikan apa-apa. Kalau kasihan pada bayi yang dibawa-bawa oleh pengemis ibu-ibu, bayi itu juga tidak akan mendapat perbaikan nasib apapun, karena bayi itu cuma sewaan. Coba saja tawarkan makanan pada pengemis anak-anak atau tawarkan untuk membelikan susu bayi pada si ibu pengemis, saya yakin 80% pasti menolak dan minta uang saja. Pernah juga sih kalo dengan pengemis/pengamen anak-anak yang mau diajak ngobrol dan ditraktir makan, tapi sangat jarang.
Kasihan pasti. Empati dan simpati udah mendarah daging di setiap sikap manusia bagaimanapun jahatnya, pasti masih punya sisi rasa ini. Tapi saya selalu menahan diri dalam situasi apapun untuk tidak memberi mereka (kecuali pengamen yang "mengganggu", pasti saya beri recehan cepat-cepat, biar segera pergi..hehe). Saya selalu bilang dalam hati, ini bukan cara saya untuk membantu mereka, lebih baik saya menyumbang di
pelayanan anak jalanan, dengan program kerja yang jelas, konsep yang jelas, arah yang jelas dan bisa menggunakan uang yang saya berikan dengan sebaik-baiknya.
Kejamkah cara pikir saya ini? Mungkin buat beberapa orang iya, tapi saya juga tidak pernah menghujat
orang-orang yang memiliki cara pandang berbeda dengan saya. Silahkan lakukan yang menurut anda benar, tidak ada kebenaran absolut kok.

Categories: , , ,

Tuesday, June 16, 2009

Jogja in Midnite

Hari Jumat 12 Juni 2009 sekitar jam 10.00 malem kita pergi ke gudeg pawon. Tau ngga gudeg pawon? Dari isu yang beredar ini gudeg yang sangat terkenal di jogja. Aku jadi penasaran karena ni gudeg baru buka jam 11 malem dan biasanya seitar jam 1 udah habis. Harusnya istimewa banget kan? Ya udah kita akhirnya beramai-ramai pergi ke tempatnya, setelah sempet mencari-cari dan keterusan akhirnya ketemu juga. Ternyata yang istimewa itu cuma tempatnya (kalo mau nyari alamatnya googling aja, pasti ketemu) soalnya kita beli dan makan gdegnya itu di pawon (dapur), suasananya klasik gimana gitu. Tapi jujur aku agak kecewa sama rasanya soalnya ternyata biasa banget, soal harga kayaknya sih standar ga mahal-mahal banget.
Abis itu baru deh petualangan dimulai. Selesai makan kita muter-muter kota jogja buat ngambil foto di beberapa spot yang cukup istimewa. Meski cuma berbekal kameranya tia sebiji, kita pede aja. Spot pertama kita foto-foto di jembatan Sayidan. Tau kan tempatnya? Lumayan juga...

Dari situ kita muter-muter ke Alun-alun Kidul trus ke kantor Pos dan tempat-tempat di sekitar itu dan akhirnya kita menuju hotspot kebanggaan yatiu Tugu Jogja.











Categories: , , ,

Wednesday, June 3, 2009

Wonosari Kedua


Ini perjalanan kedua ke "kota" Wonosari. Timnya masih hampir sama yaitu Cay, Yudhis, Adi, Tia, K Ayu tapi sekarang minus Gaby dan ketambahan anak baru masuk, anak angkatan 2007 yaitu Andre. Kita sekarang dengan pdnya mau nginep di pantai. Oh iya, rumahnya K ayu itu tepatnya ada di Semanu yang merupakan salah satu daerah di Gunung Kidul. Sebebernya kita akhirnya memutuskan untuk nekat nginep di pantai karena adanya masalah kekurangan air di rumahnya k ayu, tau sendiri kan kalo Gunung Kidul itu agak gersang. jadi akhirnya kita dengan pedenya memutuskan langsung ke pantai dan cari penginepan seadanya.
Akhirnya dapet deh penginepan yang bisa dibilang sangat murah, cuma 50 ribu bisa buat berenam, kasutnya ada dua, satu single bed satunya double bed. Lumayan ga tuh? Dan terutama kita akhirnya seorang cukup urunan sekitar 50 ribu dan itu sudah termasuk bensin, uang retribusi, makan seafood di baron 2 kali sampai puas dan biaya penginepannya. Gila ngga tuh?
Puas banget bisa main di pantai..bener-bener pantai abis. Dari mulai Saat Teduh sampai ngapa-ngapain..hahaha








Categories: ,

Wonosari Pertama

Jadi inget masa-masa muda dulu...waktu baru jadi mahasiswa tahun pertama. Main kita yang agak jauh pertama kali yaitu pergi ke rumahnya k Ayu di Wonosari trus habis itu pergi ke pantai daerah Gunung Kidul. Mulai dari pantai Baron, Kukup, Krakal dan lain-lain. Ini nih tim perjalananya :

Waktu ke pantai sih sebenernya tambah k ayu + adeknya. Habis ini mulai ekstrim deh permainannya. Biasa, cebur-ceburan dan disiilah terjadi tragedi yang sampai sekarang masih membekas lukanya di tanganku. Kejadiannya waktu mau nyeburin gaby trus dianya ngamuk dan berhasil mencederai aku, yudhis sama adi.

Dan tentu saja kita tidak melupakan sisi kuliner selama di pantai ini dengan tetap membeli berbagai ikan trus dibawa pulang abis itu kita makan di rumah k ayu. Kita ga pake nginep jadi abis main di pantai langsung pulang lagi.
Bisa dibilang buat pengalaman pertama ini asyik banget dan benar-benar jalan-jalan yang hemat cuma modal bensin doank bisa dibilang.

Categories: ,

Copyright © Johannes Dwi Cahyo | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑